Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Pelaku Penembakan El Paso Akui Incar Orang Meksiko

Sabtu 10 Aug 2019 15:48 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Hasanul Rizqa

Leta Jamrowski mengusap air matanya saat orang tuanya Misti Jamrowski (kiri) dan Paul Jamrowski berbicara kepada media di University Medical Center, El Paso, Texas, Ahad (4/8). Saudara perempuan Leta meninggal dalam penembakan di kompleks perbelanjaan El Paso.

Leta Jamrowski mengusap air matanya saat orang tuanya Misti Jamrowski (kiri) dan Paul Jamrowski berbicara kepada media di University Medical Center, El Paso, Texas, Ahad (4/8). Saudara perempuan Leta meninggal dalam penembakan di kompleks perbelanjaan El Paso.

Foto: AP Photo/John Locher
Pelaku penembakan El Paso mengakui menarget orang-orang Meksiko

REPUBLIKA.CO.ID, EL PASO -- Pelaku penembakan massal di El Paso, Texas, Amerika Serikat (AS) mengaku mengincar orang-orang Meksiko. Pengakuan ini tertera dalam laporan penyelidikan polisi setempat atas kasus penembakan yang menewaskan 23 orang itu.

Baca Juga

Dalam laporan yang dirilis pada Sabtu (10/8) itu tertulis, pelaku atas nama Patrick Crusius (21 tahun) berhenti di perempatan lampu merah. Dia kemudian keluar dari dalam kendaraannya dan berkata mengaku sebagai pelaku penembakan. 

"Dan mengatakan dengan suara keras 'saya pelakunya,'" tulis Detektif Adrian Gracia dalam laporan yang dibuat satu hari setelah penembakan itu terjadi, dilansir Reuters, Sabtu (10/8).

Crusius didakwa atas pembunuhan berat dan ditahan tanpa jaminan. Laporan menyebutkan Crusius tidak menggunakan haknya untuk tetap diam saat ditahan. Kepada polisi, Crusius mengatakan ia masuk ke dalam Walmart dengan AK47 dan sejumlah amunisi.

"Terdakwa menyatakan targetnya adalah orang Meksiko," tulis polisi dalam laporan tersebut.

Crusius diketahui menembak dan membunuh 22 orang serta melukai hingga 24 orang lainnya. Aksi ini dia lakukan tak lama setelah mengunggah sebuah manifesto via internet yang menjelaskan motivasi tindakannya.

Dalam manifesto tersebut ia menyebutkan ada 'invansi Hispanik' di Amerika Serikat. Sebagian besar orang yang dinyatakan meninggal dunia memiliki nama Hispanik.

Beberapa jam kemudian seorang laki-laki kulit putih lainnya mengenakan rompi anti peluru dan masker. Melepaskan tembakan ke kerumunan orang di Dayton, Ohio. Membunuh sembilan orang termasuk saudara perempuannya sendiri.

Presiden AS Donald Trump mengunjungi para korban di dua lokasi penembakan. Ia juga bertemu dengan pengunjuk rasa yang menuduhnya ikut memicu penembakan tersebut melalui retorika rasisme dan anti-imigrannya selama ini. 

Pihak berwenang mengatakan Crusius berkendara selama 11 jam dari tempat tinggalnya di Allen untuk melakukan penembakan di El Paso. Sebuah pemukiman yang sebagian besar penduduknya orang Hispanik. Pihak berwenang mengatakan mereka tengah menyelidiki apakah penembakan massal ini masuk aksi terorisme domestik atau tidak. 

Para kandidat calon presiden dari Partai Demokrat menuduh Trump mengipasi rasialisme, supremasi kulit putih yang anti imigran dan menggunakan bahasa rasialis dalam kampanye dan cicitannya di Twitter. Mereka mengatakan Trump menciptakan iklim politik yang kondusif untuk kekerasan berdasarkan kebencian.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA