Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Upaya Perusahaan Cina Agar Selamat di Tengah Perang Dagang dengan AS

Selasa 13 Aug 2019 04:11 WIB

Rep: deutsche-welle/ Red:

Bendera Cina-Amerika

Bendera Cina-Amerika

Foto: washingtonote
Kami menurunkan harga untuk pasar AS untuk dapat menyesuaikan beberapa tarif.

Pabrik-pabrik di sepanjang pantai timur, pengolah ikan di selatan, pengekspor jus apel di bagian tengah Cina dan para petani di timur laut pun terpaksa mengubah model bisnis mereka sejak Presiden AS Donald Trump meluncurkan konflik ini lebih dari setahun lalu. Semua pun terdampak, mulai dari produsen sepeda motor hingga mesin MRI.

Namun, bagaimana pun taktik mereka agar dapat bertahan, ini tetap saat yang sulit dan akan semakin memburuk dengan adanya kebijakan perluasan penerapan tarif yang dianggap kian mengancam.

"Ini memengaruhi kami semua sebagai eksportir ... kami memasukkan tarif ke dalam harga kami sekarang," ujar seorang manajer penjualan di Shaanxi Hengtong Fruit Juice yang mengaku bernama keluarga Liu.

Ekspor jus apel asal Cina anjlok sebesar 93 persen pada semester pertama tahun ini sejak Trump memberlakukan tarif impor pada September 2018.

Shaanxi Hengtong Fruit Juice menjual hampir semua produknya ke luar negeri. Tahun lalu perusahaan ini dan beberapa anak perusahaannya terpaksa menjaminkan saham sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dana.

Salah satu pabrik jusnya juga telah menjadikan lusinan mesin dan peralatan sebagai jaminan atas pinjaman lain.

Industri pengolahan ikan terpukul

Cina adalah pemasok utama ikan nila beku ke Amerika. Namun ekspor ikan nila juga turun tahun ini dan para petambak terpaksa mencari cara lain untuk bertahan.

"Amerika Serikat mengambil keuntungan dari posisi pasarnya dan mengganggu banyak pemasok nila yang tersebar di Cina," ujar Aliansi Nila Berkesinambungan di Hainan melalui akun WeChat-nya. "Perang dagang adalah hal terakhir untuk menghancurkan industri ini."

Aliansi ini juga mengatakan telah melakukan berbagai upaya untuk menumbuhkan penjualan di dalam negeri. Namun apa daya, perbedaan selera membuat mereka harus memotong jumlah pekerja.

"Ikan nila sangat digemari di AS karena telah dilapisi tepung dan diproses... (rasanya) agak hambar. Konsumen Cina suka jika ikan mereka masih berasa ikan (yang kuat)," ujar Even Pay, analis pertanian di perusahaan penasehat China Policy.

Perusahaan pemrosesan ikan terbesar, Zhaoqing Evergreen Aquatic, telah merancang kembali pabrik mereka pada musim dingin tahun lalu agar dapat berfokus memenuhi permintaan dalam negeri, demikian menurut sebuah penerbitan di bidang industri Undercurrent News.

Cari pasar baru hingga 'salah' pemberian label

Sementara perusahaan di bidang industri lainnya juga harus menyesuaikan diri agar bisa bertahan.

"Kami menurunkan harga untuk pasar AS untuk dapat menyesuaikan beberapa tarif," kata Andy Zhou dari perusahaan Anytone yang memproduksi handset radio.

Nilai ekspor radio Cina ke AS turun menjadi hanya 33 juta dolar AS (Rp 470 miliar) dalam enam bulan pertama 2019, dari 230 juta dolar AS (Rp 3,2 triliun) tahun sebelumnya. Zhou mengatakan pihaknya kini mencari pasar Asia dan Eropa untuk meningkatkan penjualan.

Beberapa produsen radio kelas bawah mengatakan terpaksa mengambil tindakan drastis untuk menghindari tarif AS dengan menukar kode bea cukai (produk diberi label secara keliru untuk menghindari pungutan ketika tiba di Amerika).

Perusahaan-perusahaan lain menggunakan jasa transshipment - dimana mereka mengarahkan barang-barang ke Vietnam untuk mengesankan kalau barang-barang tersebut dibuat di sana.

Hanoi pun bertekad untuk menindak produsen Cina yang secara ilegal menggunakan label "Made in Vietnam" untuk menghindari tarif AS. Langkah ini dilakukan akibat adanya kemungkinan sanksi dari Trump atas surplus perdagangan tahunannya sebesar 40 miliar dolar AS (hampir senilai Rp 570 triliun) dengan Amerika Serikat.

Peraturan baru yang diusulkan oleh Kementerian Perdagangan pada Juli 2019 mengharuskan semua barang berlabel "Produk Vietnam" sebagian besar atau sepenuhnya diproduksi di negara itu atau secara signifikan mengandung bahan-bahan yang bersumber lokal.

Barang yang berstatus "diimpor sementara" juga tidak boleh menggunakan label "Produk Vietnam."

Beberapa perusahaan Cina telah memindahkan manufaktur ke luar negeri seperti Indonesia, Vietnam dan Malaysia untuk menghindari tarif.

Beberapa perusahaan seperti produsen tekstil Jasan Group yang menjadi pemasok untuk Adidas dan Nike, produsen suku cadang sepeda HL Corp, dan produsen benang industri Zhejiang Hailide New Material, telah memindahkan beberapa produksi mereka ke Vietnam.

Berkah bagi petani kedelai

Namun perang dagang antara AS dan Cina ini tidak melulu membawa kerugian bagi Cina. Sejumlah petani kedelai lokal diuntungkan akibat adanya subsidi untuk petani.

"Pemerintah mendorong kami untuk menanam lebih banyak kedelai ... pendapatan kami meningkat dengan adanya subsidi," ujar Sun Changhai, seorang petani di sebuah pertanian kolektif di wilayah utara Mongolia Dalam.

Subsidi tersebut telah meningkatkan produksi kedelai Cina. Meski demikian, negara itu masih perlu mengimpor sekitar 85 persen kebutuhan konsumsi kedelai mereka setiap tahun, termasuk juga yang berasal dari beberapa produsen utama di AS.

ae/hp (AFP)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA