Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Mantan Presiden Kyrgyzstan Dituduh Rencanakan Kudeta

Selasa 13 Aug 2019 17:44 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Mantan presiden Kyrgyzstan Almazbek Atambayev.

Mantan presiden Kyrgyzstan Almazbek Atambayev.

Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov
Atambayev juga dituduh korupsi dan melakukan pembunuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, BISHKEK -- Mantan presiden Kyrgyzstan Almazbek Atambayev dituding berencana melakukan kudeta. Tuduhan itu dilayangkan kepala keamanan nasional Kyrgyzstan Orozbek Opumbayev, Selasa (13/8).

Baca Juga

Opumbayev mengatakan Atambayev sedang berupaya memicu pertumpahan darah di negara tersebut. Setelah hal itu terjadi, dia akan menyalahkan otoritas berwenang. "Dia (Atambayev) akan dapat melakukan kudeta," ujar Opumbayev.

Atambayev telah ditahan kepolisian Kyrgyzstan pada Kamis pekan lalu. Dia ditangkap karena dituding melakukan korupsi. Selain itu, Atambayev dituduh melakukan pembunuhan.

Dia diduga menembak mati seorang petugas keamanan saat kepolisian bentrok dengan massa pendukungnya pekan lalu. Atambayev menolak penyelidikan kriminal terhadapnya. Dia mengklaim hal itu bermotif politik dan ilegal.

Atambayev menjabat sebagai presiden pada 2011 hingga 2017. Jabatan itu kemudian diteruskan oleh sekutunya Sooronbai Jeenbekov. Atambayev memberi dukungan kepada Jeenbekov dengan tujuan mempertahankan pengaruh politiknya.

Namun tahun lalu, Jeenbekov mulai membersihkan para loyalis Atambayev dari kabinetnya. Perselisihan antara kedua tokoh itu pun timbul. Hal itu diikuti dengan beberapa penyelidikan kriminal yang menargetkan Atambayev dan rekan dekatnya.

Atambayev diketahui ambil bagian dalam pemberontakan pada 2005 dan 2010 yang menggulingkan dua presiden berturut-turut. Peristiwa itu membuat Kyrgyzstan dicap sebagai negara paling bergejolak secara politik di Asia Tengah.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA