Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Putin akan Kunjungi Prancis

Selasa 13 Aug 2019 19:21 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Vladimir Putin

Vladimir Putin

Foto: EPA/Sergei Chirikov
Putin akan bertemu Macron bahas Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan melakukan kunjungan ke Prancis pada 19 Agustus mendatang. Dalam kunjungan itu, Putin akan melakukan pertemuan dengan Presiden Emmanuel Macron membahas sejumlah topik, termasuk soal Ukraina.

Baca Juga

“Kunjungan kerja presiden Rusia ke Prancis pada 19 Agustus sedang dipersiapkan, ini akan menjadi kunjungan satu hari,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Selasa (13/8), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Dalam isu Ukraina, Putin dan Macron akan membahas tentang pembicaraan format Normandia yang melibatkan Rusia, Prancis, Ukraina, dan Jerman. Format yang bertujuan mengatasi krisis di wilayah Donbass itu telah berlangsung sejak Juni 2014.

Selain soal Ukraina dan isu internasional lainnya, Putin dan Macron pun akan membahas tentang hubungan bilateral kedua negara, terutama dalam kerja sama ekonomi. Peskov mengatakan, kedua pemimpin itu juga dapat membahas pemulangan jenazah seorang jenderal Prancis, Charles Gudin de La Sablonniere, yang terbunuh di medan perang dekat Smolensk pada 1812. Jasadnya ditemukan oleh tim arkeolog pada Juli lalu.

Pada Juli lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengajak Putin untuk mengadakan pembicaraan membahas konflik di Krimea. “Mari kita bahas siapa yang termasuk di Krimea dan siapa yang tidak di wilayah Donbass,” kata Zelensky, mengisyaratkan fakta tentang bantahan Rusia bahwa ia telah membantu kelompok separatis di wilayah tersebut dalam memerangi pasukan Ukraina.

Dia menginginkan agar pembicaraan tersebut tak hanya melibatkan negaranya dan Rusia, tapi juga Amerika Serikat (AS), Prancis, Inggris, dan Jerman. Hubungan Ukraina dengan Rusia telah memanas sejak 2014, yakni ketika massa antipemerintah berhasil melengserkan mantan presiden Ukrainayang pro-Rusia Viktor Yanukovych. Kerusuhan pun terjadi karena terdapat pula kelompok separatis pro-Rusia di sana.

Belakangan kelompok pro-Rusia itu terlibat konfrontasi bersenjata dengan tentara Ukraina, terutama di Donbass. Pada 2015, Rusia dan Ukraina, bersama Prancis serta Jerman menyepakati Perjanjian Minsk.

Salah satu poin dalam perjanjian itu adalah dilaksanakannya gencatan senjata total di wilayah timur Ukraina. Namun Moskow dianggap tak mematuhi dan memenuhi sepenuhnya perjanjian tersebut. Hal itu menyebabkan Rusia dijatuhi sanksi ekonomi oleh Uni Eropa.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA