Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Situs Muslim Muda 'Woke' untuk Cegah Terorisme di Inggris

Sabtu 17 Agu 2019 02:54 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Andi Nur Aminah

Woke,, situs ini dibuat oleh agen komunikasi sebagai bagian dari program anti teror pemerintah Inggris.

Woke,, situs ini dibuat oleh agen komunikasi sebagai bagian dari program anti teror pemerintah Inggris.

Foto: CNN
Halaman ini berisi video-video Muslim muda Inggris yang menangani isu-isu penting.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Di Inggris saat ini tengah ramai diperbincangkan halaman Facebook "Woke". Halaman ini berisi video-video Muslim muda Inggris yang menangani isu-isu penting seperti Islamofobia, intimidasi, depresi, dan keanekaragaman di tempat kerja.

Baca Juga

Belakangan diketahui, Woke merupakan bagian dari program kontra teror yang didanai pemerintah Inggris. Woke juga memiliki konten serupa di Instagram. Pada Facebook, Woke menyebut diri sebagai "perusahaan media/berita". Nama tersebut berasal dari bahasa gaul AS yang menggambarkan keadaan kesadaran sosial dan historis, dengan konotasi progresif.

Middle East Eye, situs berita yang pertama kali menyelidiki jaringan itu, mengatakan bahwa Woke dibuat oleh agen komunikasi sebagai bagian dari program anti-terorisme pemerintah Inggris. Mereka dikenal sebagai "Prevent," atau "Cegah" yang dijalankan oleh kementerian dalam negeri Inggris, Home Office.

Prevent bertujuan untuk mendidik masyarakat tentang risiko ekstremisme dan untuk mengidentifikasi orang-orang yang berisiko menjadi teroris. Identifikasi ini melalui berbagai pekerjaan sektor publik.

Home Office tidak membantah telah mendirikan Woke. "Kami berkomitmen untuk menggunakan semua alat yang tersedia untuk melawan ancaman dari terorisme di Inggris," kata seorang juru bicara kementerian dalam sebuah pernyataan, dilansir di CNN, Sabtu (17/8).

Tujuan Woke, menurut halaman Facebook-nya, adalah untuk terlibat dalam diskusi kritis tentang identitas, tradisi dan reformasi Muslim untuk memberikan visi positif tentang apa artinya menjadi Muslim saat ini.

Konten jaringan tersebut termasuk meme yang menginspirasi. Termasuk gambar mendiang Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, dan diskusi panel tentang veganisme, berita palsu dan kencan modern.

Dalam diskusi berita palsu, empat panelis muda mendiskusikan 'bagaimana melatih diri melawan apa yang terjadi di luar sana'. Salah satu videonya, tentang wanita Muslim yang menggambarkan perasaaan mereka saat pertama kali mengenakan jilbab. Video ini meraih lebih dari 250 ribu tayangan.

"Program Prevent terus memainkan peran penting dalam perjuangan melawan radikalisasi dan telah memiliki dampak yang signifikan dalam menghentikan orang yang ditarik ke dalam terorisme," kata juru bicara Home Office. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA