Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Warga Uighur Gunakan Tiktok untuk Berkirim Pesan

Selasa 20 Agu 2019 12:32 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

Aplikasi Tiktok.

Aplikasi Tiktok.

Foto: ist
Banyak video warga Uighur di Tiktok yang sedang menangis.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Warga Uighur menggunakan jejaring sosial platform video musik Tiktok untuk mengirimkan pesan atas hilangnya anggota keluarga mereka. Hal itu dinilai sebagai upaya untuk memperlihatkan dengan jelas bahwa sekitar satu juta orang dari etnis tersebut telah ditahan di sejumlah kamp yang tersebar di Xinjiang, Cina. 

Banyak video di Tiktok yang memperlihatkan sekumpulan foto dari orang-orang yang hilang, lengkap dengan latar belakang musik yang terdengar menakutkan. Selain itu, tak sedikit juga yang mengunggah video mereka sedang menangis. 

Baca Juga

Tiktok merupakan aplikasi yang memungkinkan pengguna membagikan video dengan durasi 15 hingga 60 detik dan dapat diedit dengan latar belakang musik lagu dan berbagai jenis efek. Aplikasi tersebut juga mengelompokkan video yang menggunakan klip musik yang sama, memungkinkan pengguna untuk melihat sejumlah video yang diunggah oleh warga Uighur tentang orang-orang yang mereka cintai hilang secara bersamaan.

Seorang dosen ilmu sejarah Cina modern di University of Sydney David Brophy mengatakan, video itu menunjukkan bahwa warga Uighur memiliki kepercayaan diri untuk go public atas situasi yang mereka hadapi. Bahkan, mereka dapat mengambil resiko bear dalam melakukannya. 

“Ini memberi warga Uighur kepercayaan untuk go publlic dengan situasi mereka. Meski mereka jelas putus asa dan mengambil risiko besar dalam melakukan ini, tetapi ini bisa menandakan titik balik dalam kemauan orang-orang di Xinjiang menentang dan mengekspresikan perlawanan,” ujar Brophy dilansir The Guardian, Selasa (20/8). 

Pemerintah Cina menegaskan bahwa pusat-pusat penahanan di Xinjiang bersifat sebagai fasilitas pelatihan kejuruan. Bahkan, jurnalis telah dibawa masuk untuk melihat jelas bahwa para tahanan diberikan pelajaran, serta mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan mendapat pekerjaan pabrik. 

Pada akhir Juli, Shohrat Zakir, ketua dari pemerintahan daerah Xinjiang mengatakan hampir 90 persen dari orang-orang yang ditahan telah dibebaskan. Mereka bahkan sedang mencari pekerjaan yang cocok dan mendapatkan upah yang sesuai. 

Meski demikian, banyak warga Uighur yang masih kehilangan orang-orang tercinta. Di media sosial, mereka berbagi dengan menggunakan tagar ‘ProveThe90’. 

Pada Februari lalu, dalam upaya menghilangkan rumor kematian dari seorang musisi terkenal Uighur, Abdurehim Heyit yang menghilang di Xinjiang pada 2017. Pemerintah China merilis sebuah video. Di dalam cuplikan tersebut terlihat Heyhit yang mengatakan berada dalam tahanan polisi dan tidak pernah diperlakukan dengan sewenang-wenang.

Sebagai tanggapan, para aktivis dan anggota diaspora Uighur meminta bukti video kehidupan kerabat mereka di bawah tagar #MeTooUyghur. Selama ini, warga Uighur sangat berhati-hati dalam berkomunikasi di aplikasi media sosial asal Cina, di antaranya adalah Wechat karena dipantau secara ketat oleh Beijing.

Warga Uighur yang berada di luar Cina telah berjuang untuk mengakses informasi tentang anggota keluarga mereka yang telah dikirim ke kamp tahanan. Bagi orang-orang di Xinjiang sangatlah berbahaya untuk melakukan kontak dengan orang-orang di luar Negeri Tirai Bambu. 

Hal itu berarti bahwa mereka yang belum masuk ke dalam pusat penahanan tersebut tidak dapat menghubungi anggota keluarga di seluruh dunia karena khawatir hal itu dapat menempatkan mereka dalam bahaya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA