Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

AS Minta Rezim Suriah Akhiri Serangan di Idlib

Selasa 20 Aug 2019 14:47 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Asap membumbung setelah serangan udara pasukan Suriah dan Rusia mengenai kota al-Habeet, selatan Idlib, Suriah, Ahad (19/5).

Asap membumbung setelah serangan udara pasukan Suriah dan Rusia mengenai kota al-Habeet, selatan Idlib, Suriah, Ahad (19/5).

Foto: Syrian Civil Defense White Helmets via AP, File
Serangan duara di Idlib, Suriah menewaskan tiga warga sipil.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) meminta rezim Suriah dan pasukan sekutunya menghentikan semua pergolakan di provinsi Idlib, Suriah Barat Laut, Senin (19/8). Hal itu menyusul serangan udara terhadap konvoi Turki yang menewaskan tiga warga sipil dan melukai 12 orang lainnya.

"Rezim Assad dan sekutunya harus kembali ke gencatan senjata di #Idlib sekarang," ujar juru bciara Kementerian Luar Negeri AS Morgan Ortagus melalui cicitan Twitter resminya dilansir Anadolu Agency, Selasa (20/8).

Baca Juga

"Serangan udara sembrono hari ini pada konvoi Turki menyusul serangan keji yang berkelanjutan terhadap warga sipil, pekerja kemanusiaan, dan infrastruktur. Kami mengutuk kekerasan ini dan itu harus berakhir," Ortagus menambahkan dalam cicitannya.

Menurut Kementerian Pertahanan Turki, sebelumnya Turki berinisiatif untuk mengirim pasukan ke Idlib untuk memastikan keamanan pos pengamatan, menjaga rute pasokan tetap terbuka, dan mencegah korban sipil di wilayah itu. Kementerian Pertahanan kemudian mengecam keras serangan udara tersebut. Turki menegaskan serangan merupakan pelanggaran perjanjian, kerja sama, dan dialog yang ada dengan Rusia.

Turki dan Rusia sepakat pada September lalu untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi yakni tindakan agresi secara tegas dilarang. Namun, rezim Suriah dan sekutunya, secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata. Mereka malah sering melancarkan serangan di dalam wilayah tersebut.

Zona de-eskalasi saat ini dihuni oleh sekitar empat juta warga sipil, termasuk ratusan ribu orang yang dipindahkan oleh pasukan rezim ke kota-kota di seluruh negara yang dilanda perang. PBB mencatat, ratusan ribu orang telah dilaporkan terbunuh dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi selama konflik lebih dari delapan tahun di Suriah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA