Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Darurat Kebakaran Hutan Amazon

Kamis 22 Aug 2019 15:19 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Hutan Amazon

Hutan Amazon

Kebakaran hutan Amazone meningkat 84 persen dari tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Kebakaran besar di hutan Amazon sebagian besar berada di kawasan lembah. Kebakaran di hutan tropis terbesar di dunia itu telah mencapai rekor terbesarnya tahun ini. Besarnya kebakaran membuat sejumlah negara terdekat mengumumkan keadaan darurat.

Baca Juga

Tagar Pray for Amazonas menjadi topik teratas dunia di Twitter, pada Rabu (21/8). Tak hanya itu, jutaan pengguna berbagi ke platform Instagram dan Facebook untuk menujukkan keprihatinan tentang masa depan Amazon.

Dengan meningkatnya kesadaran global, pernyataan Presiden Brasil Jail Bolsonaro yang menyalahkan LSM dari kebakaran hutan Amazon, menciptakan krisis bagi pemerintahannya. Hal itu dinilai membahayakan pakta perdagangan Uni Eropa-Mercosur serta mengecewakan klien agribisnis utamanya.

Dilansir Independent.ie., sejak Kamis pekan lalu Institut Nasional untuk Penelitian Luar angkasa (Inpe) menunjukkan data satelit yang mencatat 9.507 kebakaran hutan terbaru di negara Brasil. Sebagian besar berada di lembah Amazon. Amazon dikenal sebagai rumah bagi hutan tropis terbesar di dunia yang dianggap penting untuk melawan pemanasan global.

Gambar satelit juga menunjukkan negara bagian utara Roraima tertutup asap gelap. Amazonas mengumumkan keadaan darurat di selatan negara bagian itu dan di ibu kotanya, Manaus pada 9 Agustus. Acre, yang berada di perbatasan dengan Peru juga berada status waspada terhadap lingkungan sejak Jumat karena kebakaran. Kebakaran juga meningkat di negara bagian perbatasan pertanian Brasil, Mato dan Para.

Data Badan Antariksa Baru mencatat, jumlah kebakaran hutan hujan terbesar di dunia yang berada di Brasil telah mencapai rekor. Inpe mengatakan, data satelit menujukkan peningkatan 84 persen pada periode yang sama pada 2018.

"Tidak ada yang abnormal tentang iklim tahunan tahun ini atau curah hujan di wilayah Amazon, yang hanya sedikit di bawah rata-rata," ujar peneliti Inpe, Alberto Setzer.

Sebagian orang kerap menyalahkan musim kemarau sebagai penyebab kebakaran hutan di Amazon. Namun, menurut Setzer hal itu tidak cukup akurat untuk dijadikan alasan. "Musim kemarau menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk penggunaan dan penyebaran api, tetapi titik mulai nyala api adalah pekerjaan manusia, baik sengaja atau tidak sengaja," kata Setzer.

Gelombang kebakaran di beberapa negara bagian Amazon bulan ini terkait laporan bahwa para petani sengaja melakukan pembakaran untuk membuka lahan pertanian dan peternakan. Kendati demikian, Bolsonaro menilai kebakaran disebabkan oleh LSM yang tidak bertanggung jawab tanpa memberikan bukti nyata. Baru-baru ini, ia memecat direktur Inpe setelah mengkritik statistik agensi yang menunjukkan peningkatan deforestasi di Brasil. Bolsonaro mengatakan laporan Inpe tidak akurat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA