Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Penerbangan di Taiwan Dibatalkan Akibat Topan Bailu

Sabtu 24 Aug 2019 21:30 WIB

Rep: Antara/ Red: Friska Yolanda

Warga menyeberang jalan di tengah tiupan angin kencang yang disebabkan oleh Topan Bailu di Taipei, Taiwan, Sabtu (24/8).

Warga menyeberang jalan di tengah tiupan angin kencang yang disebabkan oleh Topan Bailu di Taipei, Taiwan, Sabtu (24/8).

Foto: AP Photo/Chiang Ying-ying
Topan Bailu memutus pasokan listrik bagi 30 ribu rumah dan mengakibatkan banjir.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Taiwan bersiap menghadapi Topan Bailu pada Sabtu (24/8). Warga terpaksa menutup tempat usaha, pemerintah meliburkan sekolah. Sementara perusahaan penerbangan membatalkan ratusan penerbangan di tengah peringatan mengenai tanah longsor, banjir dan gelombang tinggi di pulau tersebut.

Topan Bailu, yang dikategorikan sebagai topan paling lemah oleh Biro Cuaca Taiwan, memasuki daratan pada Sabtu siang di Kabupaten Pingtung di bagian selatan negeri itu. Topan itu tiba dengan kecepatan angin maksimal 137 kilometer per jam.

Ratusan orang dipindahkan ke tempat aman. Sementara lebih dari 350 penerbangan dibatalkan. Sebanyak 34 ribu prajurit dikerahkan ke Taiwan Selatan di tengah kekhawatiran mengenai banjir.

Topan tersebut, yang pertama memasuki daratan pulau itu dalam lebih dari dua tahun, memutus pasokan listrik ke hampir 30.000 rumah dan mengakibatkan banjir lokal di Taiwan Selatan. Biro itu mengeluarkan peringatan angin dan hujan buat Taiwan Selatan, termasuk Kota Pelabuhan Kaohsiung, tempat kegiatan usaha dan sekolah ditutup. Biro tersebut juga mengeluarkan peringatan buat nelayan di seluruh pulau itu.

Topan tersebut diperkirakan melewati Teluk Taiwan dan melanda Provinsi Fujian di Cina pada akhir pekan, kata petugas prakiraan cuaca. 

Topan sering menerjang Taiwan, Cina, Filipina dan Jepang pada semester kedua setiap tahun, dan memperoleh kekuatan dari perairan hangat di Samudra Pasifik atau Laut Cina Selatan.

Topan Morakot memporakporandakan pulau itu pada 2009. Akibat peristiwa itu, hampir 700 orang meninggal dunia, kebanyakan dari mereka akibat tanah longsor.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA