Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Polisi Tembakkan Gas Air Mata ke Pengunjuk Rasa G7

Ahad 25 Aug 2019 12:06 WIB

Rep: Antara/ Red: Indira Rezkisari

Pengunjuk rasa lari dari tembakan gas air mata oleh polisi di Bayonne, Prancis, Ahad (25/8). Pengunjuk rasa ada di Bayonne dalam rangka KTT G7 yang dihelat di Biarritz.

Pengunjuk rasa lari dari tembakan gas air mata oleh polisi di Bayonne, Prancis, Ahad (25/8). Pengunjuk rasa ada di Bayonne dalam rangka KTT G7 yang dihelat di Biarritz.

Foto: AP/Emilio Morenatti
Prancis kerahkan 13 ribu polisi jaga keamanan G7.

REPUBLIKA.CO.ID, BAYONNE -- Polisi anti huru hara Prancis pada Sabtu (24/8) waktu Prancis menggunakan meriam air dan gas air mata guna membubarkan massa antikapitalisme di Bayyonne, dekat resor Biarritz, lokasi Konferensi Tingkat Tinggi G7 selama tiga hari digelar. Helikopter polisi berputar-putar saat puluhan pengunjuk rasa melemparkan batu, meneriakkan slogan dan menyalahgunakan barisan polisi di pusat kota bersejarah Basque.

Baca Juga

Massa meneriakkan "Semua orang benci polisi" dan "Anti, anti, antikapitalisme" selama aksi di perbatasan antara Prancis dan Spanyol, yang berubah menjadi lebih brutal.

Terombang-ambing oleh aksi protes antipemerintah sepanjang tahun ini, Prancis mengerahkan lebih dari 13 ribu polisi. Mereka memastikan massa tidak mendekati Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pemimpin lainnya.

Ribuan aktivis antiglobalisasi, separatis Basque, dan pengunjuk rasa rompi kuning berjalan kaki dari Kota Prancis Hendaye menuju Kota Irun di Spanyol. Mereka membentangkan spanduk yang menyeru aksi iklim, hak-hak dan contoh ekonomi yang lebih adil.

"Para pemimpin kapitalis utama ada di sini dan kami harus menunjukkan kepada mereka bahwa pertarungan berlanjut," kata Alain Missana (48 tahun), partisipan yang mengenakan rompi kuning. Rompi adalah simbol aksi antipemerintah yang digelar di Prancis selama beberapa bulan.

"Lebih banyak uang bagi yang kaya dan yang miskin tak memiliki apa-apa. Kami melihat hutan Amazon terbakar dan Arktik mencair. Para pemimpin akan mendengar kita," kata dia.

Empat personel polisi mengalami luka ringan pada Jumat setelah massa menembakkan mortil rakitan di dekat aksi protes anti-G7 di Hendaye. Polisi menangkap 17 orang lantaran menutupi wajah mereka, dilansir dari Reuters, Ahad (25/8).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA