Senin 26 Aug 2019 12:33 WIB

Pengungsi Rohingya Pilih Mati daripada Pulang ke Myanmar

Pengungsi Rohingya memilih bunuh diri dengan meminum racun.

Pengungsi Rohingya kelelahan setelah melintasi laut menaiki perahu kecil dari wilayah Myanmar menuju pesisr Shah Porir Dwip, di Teknaf, dekat Cox's Bazar, Bangladesh (1/10/2017).
Foto: Damir Sagolj/Reuters
Pengungsi Rohingya kelelahan setelah melintasi laut menaiki perahu kecil dari wilayah Myanmar menuju pesisr Shah Porir Dwip, di Teknaf, dekat Cox's Bazar, Bangladesh (1/10/2017).

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp sementara yang padat di Kabupaten Cox's Bazar, Bangladesh mengatakan mereka bertekad tidak akan pulang ke Myanmar tanpa keadilan dan hak penuh.

Banyak orang Rohingya yang dipersekusi di kamp pengungsi memperingatkan di dalam pesan video tanpa dipenuhinya tuntutan sah mereka, mereka tidak akan menerima pemulangan paksa ke Negara Bagian Rakhine di Myanmar. Mereka justru memilih menyambut kematian di Bangladesh.

Baca Juga

"Mereka (militer Burma) telah membunuh rakyat kami dan memerkosa saudari, anak perempuan dan ibu kami. Jika kami pulang, mereka akan melakukan perbuatan yang sama lagi. Kami takkan pergi ke sana," kata Hasina Begum (29 tahun).

Begum menyelamatkan diri dari Kota Praja Maungdaw di Negara Bagian Rakhine setelah penindasan brutal militer pada 25 Agustus 2017. Ia berlindung di satu kamp di Bangladesh. Sejak peristiwa itu, lebih dari 750 ribu orang Rohingya menyelamatkan diri ke Bangladesh sebab mereka menghadapi pembersihan etnis, pemusnahan suku, dan pembunuhan massal yang ditaja negara.

Kolsoma Begum, perempuan Rohingya yang berusia (22), lebih emosional saat berbicara sementara bayi mungilnya berada di pangkuannya. Dia mengusap air mata dengan menggunakan jilbabnya.

photo
Dalam foto file bulan September 2017, sejumlah pengungsi perempuan Muslim Rohingya berebut pembagian makanan di kamp pengungsian Balukhali, Bangladesh.

"Kami cuma ingin keadilan buat pembunuh saudari dan ibu kami. Jika kami dipaksa pulang sekarang, kami akan memilih bunuh diri dengan menggunakan racun," kata perempuan itu.

Seorang lagi warga Rohingya yang berusia lanjut, Rashida Khatun, juga memperingatkan mengenai bunuh diri. "Mereka (tentara Myanmar) membakar hidup-hidup anak kecil kami, menghancurkan rumah kami, dan harta kami dengan menggunakan api. Ke mana kami akan pergi sekarang?"

Beberapa lagi perempuan Rohingya dengan mengenakan burqa juga menangis saat mengenang peristiwa buruk di Myanmar dan menuntut keadilan. Mereka ingin militer dan pemerintah Myanmar diminta mempertanggungjawabkan kejahatan terhadap sebagian besar anggota masyarakat yang dipersekusi.

Mohammad Alam, yang melarikan diri dari Daerah Shilkhali di Kota Praja Maungdaw menyampaikan lima tuntutan khusus sebagai prasyarat buat pemulangan. Tuntutan tersebut meliputi hak kewarganegaraan penuh; pemukiman kembali di tempat yang sama dengan yang mereka tinggalkan setelah penindasan Agustus 2017; keadilan buat korban perkosaan, perkosaan berkelompok, pembunuhan, pembakaran dan penindasan lain serta pengrusakan harta; pembebasan tanpa syarat orang Rohingya Muslim yang masih dipenjarakan secara tidak adil di kamp pengungsi di dalam negeri (IDP) dan penjara di Myanmar serta penggelan akhir pasukan keamanan di bawah PBB guna menghindari terulangnya penindasan oleh militer Myanmar.

photo
Barang dan pakaian milik pengungsi yang tersisa di Kamp Pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, (20/9/2017).

"Kami tak ingin tinggal di negara asing untuk waktu lama, tapi kami memerlukan keadilan, keselamatan dan hak asasi," kata satu lagi orang Rohingya.

Ia menceritakan, mereka akan dengan cepat pulang ke Myanmar dengan senang hati setelah tuntutan sah mereka dipenuhi. Pengungsi Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling dipersekusi di dunia, telah menghadapi ketakutan tinggi mengenai serangan sejak puluhan orang Rohingya tewas dalam kerusuhan etnik pada 2012.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement