Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Rusia Undang AS Bahas Pengendalian Senjata Nuklir

Senin 26 Aug 2019 14:52 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Peluncuran rudal jelajah darat yang dikonfigurasikan secara konvensional di Pulau San Nicolas di lepas pantai Kalifornia, Ahad (18/8). Pentagon mengatakan militer AS melakukan uji coba terhadap jenis rudal yang dilarang selama lebih dari 30 tahun.

Peluncuran rudal jelajah darat yang dikonfigurasikan secara konvensional di Pulau San Nicolas di lepas pantai Kalifornia, Ahad (18/8). Pentagon mengatakan militer AS melakukan uji coba terhadap jenis rudal yang dilarang selama lebih dari 30 tahun.

Foto: Scott Howe/U.S. Defense Department via AP
Dialog pengendalian senjata nuklir dapat berlangsung jika AS bersedia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pemerintah Rusia mengatakan akan mengundang Amerika Serikat (AS) untuk melakukan pembicaraan tentang pengendalian senjata nuklir. Moskow menyatakan siap menjalin pembahasan itu dengan Washington.

“Kami terbuka untuk pembicaraan. Presiden Rusia (Vladimir Putin) mengatakan kami mengundang AS untuk mengadakan pembicaraan segera,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, Ahad (25/8), dilaporkan laman kantor berita Rusia, TASS.

Menurut dia, Kementerian Luar Negeri Rusia dan lembaga terkait lainnya telah siap melakukan pembicaraan. “Segera setelah Amerika mengatakan ‘Ya’, kita akan dapat memulai proses segera,” ujarnya, mengisyaratkan dialog dapat berlangsung jika AS bersedia.

Rusia dan AS diketahui telah sama-sama keluar dari perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces (INF). Perjanjian yang ditandatangani pada 1987 itu melarang kedua negara memiliki rudal nuklir dengan daya jangkau 500-5.500 kilometer. INF bubar setelah Moskow dan Washington terlibat aksi saling tuding melanggar perjanjian tersebut.

Pada Ahad pekan lalu, AS melakukan uji coba rudal jelajah Tomahawk berkemampuan nuklir di Pulau San Nicolas, Kalifornia. Menurut Pentagon, rudal berhasil menjangkau dan mengenai target setelah menempuh jarak lebih dari 500 kilometer.

Menurut Putin uji coba rudal yang dilakukan AS telah meningkatkan ancaman terhadap negaranya.  Dia menjamin bahwa Rusia akan mengambil respons yang tepat.

Putin menduga AS telah mempersiapkan dan membangun sistem rudalnya sebelum resmi hengkang dari perjanjian INF pada 2 Agustus lalu. “Amerika telah menguji rudal ini terlalu cepat setelah menarik diri dari perjanjian. Itu memberi kami alasan kuat untuk percaya mereka telah mulai bekerja untuk mengadaptasi rudal jauh yang diluncurkan di laut sebelum mereka mulai mencari alasan untuk memilih keluar dari perjanjian,” ujarnya setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Finlandia Sauli Niinsto, Rabu (21/8).

Menurut Putin, rudal yang diuji AS dapat diluncurkan dari peluncur yang telah ada di Rumania dan akan berlokasi di Polandia dalam waktu dekat. “Cukup hanya dengan mengubah perangkat lunak (untuk peluncuran jenis baru). Bagi kami ini berarti ada ancaman baru yang harus kita tanggapi dengan tepat,” ucapnya.

Putin mengatakan, negaranya akan bekerja merancang rudal seperti yang diuji AS. Namun dia menegaskan bahwa Rusia tidak akan menyebarkan rudal yang sebelumnya dilarang dalam perjanjian INF ke daerah mana pun sebelum AS melakukan terlebih dahulu.

Washington memang berencana menempatkan rudal di kawasan Asia. Namun, ia belum mengumumkan di mana saja rudal itu akan disebarkan.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA