Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Donald Trump akan Temui Rouhani Bahas Kesepakatan Nuklir

Selasa 27 Aug 2019 08:01 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump saat konferensi pers bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di KTT G-7 di Biarritz, Prancis, Senin (26/8).

Presiden AS Donald Trump saat konferensi pers bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di KTT G-7 di Biarritz, Prancis, Senin (26/8).

Foto: AP Photo/Andrew Harnik
Rouhani terbuka untuk menemui Donald Trump guna membahas kesepakatan nuklir.

REPUBLIKA.CO.ID, BIARRITZ -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan siap berjumpa Presiden Iran Hassan Rouhani untuk mengakhiri konfrontasi kesepakatan nuklir. Dia menyampaikan hal itu saat menghadiri pertemuan puncak G7 di resor Biarritz, Prancis, Senin (26/8).

Baca Juga

Trump menyebut kemungkinan pertemuan akan berlangsung dalam beberapa pekan. Dia mempertimbangkan pencabutan sanksi ekonomi Iran untuk mengompensasi kerugian yang selama ini sudah dialami negara tersebut.

"Saya punya firasat baik. Saya pikir dia (Rouhani) akan setuju dengan pertemuan ini untuk memperbaiki situasi mereka. Selama ini mereka sudah banyak tersakiti," ujar Trump, seperti dikutip dari laman Y Net News.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, tuan rumah pertemuan G7, berkomentar di konferensi pers yang sama bahwa Rouhani terbuka berjumpa dengan Trump. Macron mendukung pertemuan keduanya dalam waktu dekat dan berharap semua lancar.

Sederet pemimpin negara di Eropa telah berusaha menjembatani konfrontasi Iran-AS. Pertentangan bermula ketika Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Teheran dan menerapkan kembali sanksi terhadap ekonomi Iran.

Sebelum ini, Trump mengatakan AS tidak akan membayar kompensasi kepada Iran untuk sanksi ekonomi. Ide yang sedang didiskusikan adalah sejumlah negara yang memberikan batas kredit kepada Iran agar perekonomiannya tetap berjalan.

Kesepakatan 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia diteken ketika AS dipimpin Barack Obama. Perjanjian bertujuan mengekang program pengayaan uranium Iran sebagai pertukaran untuk pencabutan banyak sanksi internasional terhadap Teheran.

Sejak membatalkan perjanjian tahun lalu, Trump justru memberlakukan kebijakan "tekanan maksimum". Pihaknya memaksa Iran melakukan pembicaraan lebih lanjut membatasi program rudal balistik dan mengakhiri dukungan untuk pasukan di Timur Tengah.

Kini, Trump menegaskan tujuan Washington mengekstraksi konsesi keamanan lebih lanjut dari Iran bukanlah perubahan rezim. Dia mengaku ingin melihat Iran menjadi negara yang benar-benar baik dan kuat.

"Apa yang kami inginkan sangat sederhana. Itu harus non-nuklir. Kita akan berbicara tentang rudal balistik, juga tentang tenggat waktunya. Tetapi mereka (Iran) harus menghentikan terorisme. Saya pikir mereka akan berubah," kata Trump.

Sekutu Trump di Eropa juga menginginkan negosiasi baru dengan Iran. Mereka percaya kesepakatan nuklir harus ditegakkan untuk menangkal risiko perang yang lebih luas di Timur Tengah. Rouhani telah merespons dengan mengisyaratkan kesiapan bertemu Trump jika itu bisa membantu Iran. 

"Jika saya tahu bahwa pertemuan dengan seseorang membuat masalah negara saya akan terselesaikan, saya tidak akan ragu, karena masalah utama adalah kepentingan nasional negara," kata Rouhani lewat situs resmi kepresidenan Iran.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA