Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Polusi Udara Buat Ekonomi Merosot, India Rasakan Dampaknya

Ahad 01 Sep 2019 09:42 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Siswa India menggunakan sapu tangan sebagai masker untuk melindungi diri dari polusi udara mematikan di New Delhi, India.

Siswa India menggunakan sapu tangan sebagai masker untuk melindungi diri dari polusi udara mematikan di New Delhi, India.

Foto: AP Photo/R S Iyer
700 juta warga India terpapar udara yang tidak sehat akibat polusi.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Bank Dunia mencatat, India telah kehilangan lebih dari 8,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2013 akibat polusi udara. Padahal, sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia, India menarget dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi mencapai angka lima triliun dolar AS.

Baca Juga

India adalah rumah bagi 15 dari 20 kota paling tercemar di dunia. Sejumlah penelitian menunjukkan, hampir 700 juta orang India terpapar udara yang tidak sehat.

"Jika Anda hitung kita kehilangan karena penyakit, karena waktu produktif, semua ini datang dengan biaya ekonomi yang besar," kata Anumita Roychowdhury dari Pusat Sains dan Lingkungan seperti dikutip Aljazirah, Ahad (1/9).

Penelitian terbaru dari Indian Statistics Institute menunjukkan bahwa mengurangi polusi akan membantu negara menambah pendapatan hingga miliaran. "Jika kita dapat mengurangi polusi udara hingga nol, setiap orang India akan bersedia membayar sekitar 300 dolar AS per tahun untuk mengurangi risiko tersebut. Total manfaatnya akan mencapai sekitar 300 miliar dolar AS atau 400 miliar dolar AS per tahun," ujar profesor E Somanathan, dari Indian Statistics Institute.

Para ahli mengatakan, India bisa mengambil pelajaran yang bisa dipetik dari China saat memperbaiki kualitas udara negara yang buruk. "China menempatkan polusi udara bukan sebagai bagian dari agenda lingkungan, ini adalah bagian dari proses perencanaan nasional. Jadi jelas itu adalah agenda ekonomi," kata Direktur India Clean Air Asia, Prarthana Borah. "Kami benar-benar perlu mengintegrasikan udara dalam kebijakan pembangunan," Borah menambahkan. 

Menurut Global of Disease Study, lebih dari satu juta orang meninggal pada 2017 karena udara kotor di negara yang dipimpin Perdana Menterinya Narendra Modi. Meski demikian, Pemerintah India konsisten mempertahankan penilaian bahwa tidak ada korelasi langsung antara polusi udara dan kematian, meskipun polusi udara telah dikaitkan dengan sepertiga dari semua kematian akibat kanker paru-paru di India.

Namun, banyak dokter India mengatakan ada hubungan yang jelas antara polusi udara dan kematian. Dokter Arvind Kumar dari Yayasan Paru-Paru India memiliki cukup data yang tersedia bahwa polusi udara membunuh masyarakat. "Tindakan, tidak boleh menunggu hasil studi ilmiah karena itu mungkin memakan waktu 10, 20 tahun dan pada saat itu kita akan kehilangan jutaan orang akibat ancaman ini," ujar Kumar.

Awal tahun ini, Pemerintah India memperkenalkan Program Udara Bersih Nasional perdana yang bertujuan menurunkan tingkat polusi di lebih dari 100 kota sebesar 20-30 persen selama lima tahun ke depan. Pengadilan Hijau Nasional kini mendorong pemerintah untuk menetapkan target yang lebih tinggi untuk program hingga memajukan tenggat waktu.

"Setiap target pengurangan akan membutuhkan strategi multi-sektor yang efektif, reformasi sistem, pemantauan, kepatuhan, dan pencegahan untuk pengambilan solusi yang lebih cepat," ujar Roychowdhury.

Di India, polusi industri memang menjadi masalah serius di negara. Menurut data Greenpeace terbaru, India adalah penghasil sulfur dioksida terbesar di dunia atau hampir seluruhnya karena penggunaan batu bara.

Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara di seluruh negeri akan beralih ke teknologi emisi yang lebih bersih pada 2022 yang berarti perpanjangan besar dari tenggat waktu awal 2017. Sebuah studi baru-baru ini memperkirakan bahwa pengalihan tersebut akan menelan biaya India 12 miliar dolar AS. Dengan demikian, ada kekhawatiran baru bahwa standar untuk emisi nitrogen oksida dari pembangkit termal dapat terdilusi.

"Ketatnya regulator tidak ada ketika datang ke kesehatan masyarakat. Orang-orang tampaknya kehilangan keuntungan dari industri," kata Spesialis kampanye di Greenpeace Sunil Dahiya.

Sementara itu, warga harus menimbun masker dan nebuliser untuk memerangi polusi udara. Sebagian lagi memilih opsi yang lebih mahal seperti ruang kantor bebas polusi dan pembersih udara yang memiliki banderol antara 400 dolar AS dan 2.000 dolar AS.

CEO Breathe Easy Consultants Barun Anggarwal menilai cara tersebut adalah solusi jangka pendek untuk masalah yang sangat besar yang perlu ditangani di tingkat kota, negara bagian, dan seluruh negara.

"Apakah ini elitis? Ya, benar. Tetapi jika saya mampu, jika saya dapat membantu anak-anak dan keluarga saya menghirup udara yang lebih baik, dan membantu mereka melindungi paru-paru mereka, saya akan melakukan semua yang saya bisa," kata Anggarwal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA