Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

AS Temukan 215 Kasus Penyakit Paru-Paru Akibat Vape

Senin 02 Sep 2019 05:20 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Andri Saubani

Vape (ilustrasi)

Vape (ilustrasi)

Foto: Youtube
Kasus penyakit paru-paru meningkat dari laporan sepekan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pejabat kesehatan Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa pada 27 Agustus, setidaknya ditemukan 215 kasus penyakit paru-paru parah yang disebabkan oleh vaping. Temuan itu berasal dari 25 negara bagian di AS.

"Laporan tambahan penyakit paru-paru sedang diselidiki," menurut pernyataan oleh para pemimpin dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Dilansir CNN, Senin (2/9), laporan oleh masing-masing departemen kesehatan negara bagian menunjukkan jumlah total kasus potensial bisa secara signifikan lebih tinggi, meskipun beberapa kasus mungkin masih dikesampingkan. Namun, ini merupakan peningkatan dari satu pekan yang lalu, ketika CDC mengumumkan sedang mencari kemungkinan 193 kasus di 22 negara bagian, termasuk setidaknya satu kematian di Illinois. Angka 193 termasuk kasus yang belum dikonfirmasi, pejabat kesehatan mengatakan kepada wartawan pekan lalu.

"Negara-negara menyelesaikan penyelidikan mereka sendiri dan verifikasi kasus berdasarkan definisi kasus terstandarisasi CDC yang baru-baru ini dirilis," kata pernyataan CDC.

Para pejabat kesehatan mengatakan, tidak jelas apakah ada hubungan antara kasus-kasus tersebut. Apakah vaping secara definitif menyebabkan penyakit-penyakit ini dan komponen atau bahan kimia rokok elektrik apa yang bertanggung jawab.

"Terlepas dari investigasi yang sedang berlangsung, produk rokok elektrik tidak boleh digunakan oleh remaja, dewasa muda, wanita hamil, serta orang dewasa yang saat ini tidak menggunakan produk tembakau," kata CDC dan FDA.

CDC, FDA dan departemen kesehatan negara mengatakan mereka bekerja bersama mencari tahu produk mana yang mungkin telah digunakan dan memfasilitasi pengujian laboratorium. Sejauh ini, FDA telah menerima sekitar 80 sampel dan terus menerima permintaan dari negara-negara untuk mengirim lebih banyak sampel untuk dianalisis FDA.

"Sampel mewakili berbagai jenis produk dan zat yang berbeda, beberapa di antaranya berisi informasi yang tidak lengkap tentang produk tersebut," kata pernyataan FDA.

"Pada saat ini, tampaknya tidak ada satu produk yang terlibat dalam semua kasus, meskipun penggunaan THC dan kanabinoid telah dilaporkan dalam banyak kasus."

THC, atau tetrahydrocannabinol, adalah zat psikoaktif dalam kanabis atau ganja.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA