Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Pendemo Hong Kong akan Bawa Pesan Demokrasi ke Konsulat AS

Ahad 08 Sep 2019 12:25 WIB

Red: Nidia Zuraya

Unjuk rasa di Hongkong (Ilustrasi)

Unjuk rasa di Hongkong (Ilustrasi)

Foto: Youtube
Hong Kong kembali ke Cina dari Inggris pada 1997 di bawah formula satu negara

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Pengunjuk rasa Hong Kong menyerukan demokrasi dengan membawa pesan mereka ke Konsulat Amerika Serikat (AS) pada Ahad (8/9). Ini setelah malam kekerasan lainnya di pekan ke-14 kerusuhan terjadi.

Menteri Pertahanan AS, Mark Esper pada Sabtu (7/9) mendesak pemerintah Cina untuk menahan diri di Hong Kong. Esper menyatakan seruannya di Paris, saat polisi di Hong Kong mencegah pengunjuk rasa menghalangi akses ke bandara internasional kota itu, polisi menembakkan gas air mata untuk malam kedua di distrik Mong Kok yang padat penduduk.

Baca Juga

Sementara itu, para pengunjuk rasa lain membuat kobaran api di jalan, dan ada beberapa penangkapan.

Hong Kong kembali ke Cina dari Inggris pada 1997 di bawah formula satu negara, dua sistem, yang menjamin kebebasan. Banyak warga Hong Kong takut Beijing dapat menghilangkan otonomi itu.

Cina membantah tuduhan mencampuri urusan, dan menyebutkan Hong Kong merupakan urusan internal. Mereka mengecam protes itu, menuduh AS dan Inggris mengobarkan kerusuhan, dan memperingatkan kerusakan ekonomi.

Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam mengumumkan konsesi pekan ini yang bertujuan untuk mengakhiri protes, termasuk secara resmi membatalkan Rancangan Undang-Undang (RUU) ekstradisi. Akan tetapi banyak yang mengatakan konsesi terlalu sedikit, dan terlalu lamban. Dia mengatakan Beijing mendukungnya sepanjang jalan pemerintahannya.

RUU tersebut memicu protes pada Juni akan memungkinkan ekstradisi orang ke Cina untuk diadili di pengadilan, yang dikendalikan oleh Partai Komunis. Hong Kong memiliki peradilan independen, yang berasal dari pemerintahan Inggris.

Demonstrasi kini telah menjamur menjadi seruan untuk demokrasi yang lebih luas, dan banyak pengunjuk rasa telah berjanji untuk berjuang.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS memperbarui penasehat perjalanannya untuk Hong Kong. Mereka memperingatkan bahwa warga negara AS, dan karyawan konsuler telah menjadi target kampanye propaganda baru-baru ini oleh Cina, yang menuduh Amerika menimbulkan kerusuhan.

Tingkat risiko secara keseluruhan tetap pada level terendah kedua dari ukuran empat tingkat, setelah dinaikkan pada 7 Agustus lalu.


sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA