Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Menlu Sudan Tertarik Jalin Hubungan Diplomatik dengan Israel

Senin 09 Sep 2019 17:25 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Perempuan Sudan memegang bendera nasional ketika mereka merayakan di jalan-jalan setelah penandatangan deklarasi konstitusional antara dewan militer yang berkuasa dan pengunjuk rasa, di Khartoum, Sudan, 4 Agustus 2019.

Perempuan Sudan memegang bendera nasional ketika mereka merayakan di jalan-jalan setelah penandatangan deklarasi konstitusional antara dewan militer yang berkuasa dan pengunjuk rasa, di Khartoum, Sudan, 4 Agustus 2019.

Foto: EPA-EFE/MARWAN ALI
Namun, hal itu dilakukan jika konflik Palestina-Israel selesai.

REPUBLIKA.CO.ID, KHARTOUM -- Menteri Luar Negeri Sudan Asma Abdullah mengatakan dia tertarik membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, hal itu hanya akan dilakukannya jika konflik antara Israel dan Palestina telah terselesaikan.

Baca Juga

Abdullah baru saja dilantik dalam jajaran kabinet pemerintahan baru Sudan pada Ahad (8/9). Ia tergabung dalam struktur pemerintahan pertama sejak mantan presiden Omar al-Bashir dilengserkan oleh militer pada April lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan reporter televisi Aljazirah, Abdullah sempat ditanya apakah dia akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. “Sekarang bukan waktunya,” kata dia, seperti dilaporkan laman The Times of Israel.

Ia pun kemudian ditanya apakah Sudan pada prinsipnya tidak memiliki masalah menjalin hubungan dengan Israel dan hal itu dapat terjadi pada masa mendatang. “Tentu saja, maksud saya, jika Anda melihat negara Arab, kebanyakan dari mereka memiliki hubungan (dengan Israel) dalam satu atau lain cara. Sudan adalah salah satu negara Arab, tapi sekarang bukan waktunya,” ujar Abdullah.

Reporter televisi Aljazirah lantas mengatakan pernyataan Abdullah tampaknya berbahaya. Sebab terdapat sejumlah negara yang menentang hubungan dengan Israel karena Palestina belum memperoleh kepentingan dan haknya.

“Karena itu, saya memberitahu Anda, sekarang bukan saatnya bagi orang-orang untuk berbicara tentang normalisasi hubungan dengan Israel. Masih ada masalah yang belum terselesaikan. Sampai masalah yang tak terselesaikan ini tuntas, saya tidak berpikir mungkin untuk membuka pintu itu,” kata Abdullah.

Komentar Abdullah muncul beberapa hari setelah Menteri Urusan Agama Sudan Nasra al-Din Mufrah meminta orang-orang Yahudi asal negaranya yang berada atau tinggal di luar negeri untuk kembali. “Sudan plural dalam hal ide, nilai, budaya, ideologi, mazhab, pemikiran Islam, dan bahkan dalam agamanya. Ada Islam, Kristen, dan minoritas Yahudi,” ucapnya.

“Mungkin saja mereka telah meninggalkan negara ini, tapi kami meminta mereka dari sini mengambil hak mereka menjadi warga negara kami dan kami mendesak mereka kembali ke negara ini,” ujar Mufrah.

Pada dekade 1930-1940, Sudan tercatat memiliki sekitar seribu warga Yahudi. Mereka mulai meninggalkan Sudan ketika negara itu memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan bersama Inggris-Mesir pada 1956. Pada 1960-an komunitas Yahudi di negara itu hampir lenyap.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA