Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Perdamaian Israel-Palestina Dinilai Masih Sulit Dicapai

Selasa 10 Sep 2019 03:40 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Yudha Manggala P Putra

Bendera Palestina. Ilustrasi

Bendera Palestina. Ilustrasi

Foto: Reuters
Perdamaian Palestina-Israel dinilai masih sulit tercapai dalam waktu dekat.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA –- Ketua Komite Qatar untuk Rekonstruksi Gaza Mohammed al-Emadi menilai proses perdamaian israel dengan Palestina tidak akan tercapai dalam waktu dekat. Terdapat beberapa faktor penyebab, termasuk masih adanya friksi di antara faksi-faksi Palestina. 

Dalam sebuah wawancara dengan Aljazirah yang dirilis Senin (9/9), al-Emadi memulai pemaparannya dengan kondisi di Jalur Gaza. Menurutnya, Gaza adalah wilayah yang rentan. Dia melihat wilayah itu seperti lelaki yang berjalan di atas tali dan berusaha menjaga keseimbangan serta tak jatuh saat semua orang menusuknya.

“Gaza adalah tempat di mana Israel, Mesir, Otoritas Palestina, Hamas, dan faksi-faksi Palestina lainnya mencoba untuk saling melemahkan dan bersaing untuk merebut kekuasaan,” kata al-Emadi,

Situasi di sana, kata dia, memang berbelit dan pelik. “Saya tidak berpikir akan ada perdamaian antara Hamas atau Fatah atau antara Palestina dan Israel,” ujarnya.

Dia menilai masyarakat Palestina di Gaza adalah korban sebenarnya dari blokade Israel-Mesir dan friksi politik intra-Palestina. Gaza diketahui telah diblokade selama sekitar 12 tahun. Tak mengherankan jika terjadi krisis kemanusiaan di sana.

Selain karena minimnya pasokan listrik, pertempuran antara Hamas dan Israel pun masih kerap terjadi. Kendati demikian, hingga kini Qatar masih menjalin baik dengan Israel, Palestina, termasuk Hamas yang mengontrol Gaza.

“Meskipun itu tidak mudah, kehadiran kami telah memfasilitasi ketenangan di perbatasan dengan Gaza walaupun terkadang terjadi kekerasan. Kami sangat dihormati oleh keduanya (Israel-Palestina),” kata al-Emadi.

Dia mengungkapkan saat ini Qatar mengucurkan dana sekitar 30 juta dolar AS per bulan untuk membantu krisis di Gaza. “Kami membayar 10 juta dolar AS untuk menghasilkan listrik, 100 dolar AS masing-masing untuk 100 ribu keluarga miskin di Gaza. Sisanya digunakan untuk membiayai proyek ekonomi kecil,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA