Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Afghanistan Serukan Taliban Terima Gencatan Senjata

Selasa 10 Sep 2019 02:55 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Yudha Manggala P Putra

Peta Afghanistan, ilustrasi

Peta Afghanistan, ilustrasi

Seruan Presiden Afghanistan muncul setelah AS membatalkan perundingan dengan Taliban.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kembali menyerukan pembicaraan damai dengan Taliban pada Senin (9/9). Seruan itu muncul setelah Amerika Serikat (AS) membatalkan perundingan dan negosiasi perdamaian dengan Taliban.

“Kami siap untuk pembicaraan damai, tapi jika Taliban berpikir mereka dapat menakuti kami, lihatlah para pejuang ini,” kata Ghani yang menyatakan bahwa perdamaian tidak bisa tanpa syarat karena ia mengulangi tuntutan gencatan senjata yang sejauh ini ditolak Taliban.

Langkah tersebut merupakan perubahan penting dalam sikap Pemerintah Afghanistan. Sebab sebelum AS membatalkan pembicaraan damai, Ghani mengatakan tidak memiliki syarat untuk menjalin negosiasi dengan Taliban.

Pekan lalu Presiden AS Donald Trump membatalkan pertemuan dengan para pemimpin Taliban yang diagendakan digelar di Camp David, Maryland. Keputusan diambil setelah Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di Kabul. Sebanyak 12 orang tewas dalam insiden itu, termasuk satu tentara AS.

Setelah membatalkan pembicaraan dengan Taliban, Trump mengungkapkan rencana untuk Ghani. Sejak tahun lalu, AS telah menjalin negosiasi dengan Taliban. Permasalahan utama yang mereka bicarakan adalah tentang penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Militer AS diketahui merupakan sekutu utama Pemerintah Afghanistan dalam memerangi Taliban.

Selain melatih para tentara Afghanistan, militer AS kerap melakukan serangan udara ke basis-basis kekuasaan Taliban. Militer AS telah berada di sana selama sekitar 18 tahun.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA