Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Rusia dan Prancis akan Pertahankan Kesepakatan Nuklir Iran

Selasa 10 Sep 2019 08:06 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Salah satu fasilitas yang diduga pembuatan nuklir di Provinsi Bushehr, Iran.

Salah satu fasilitas yang diduga pembuatan nuklir di Provinsi Bushehr, Iran.

Foto: AP
Prancis akan menjalin dialog dengan Iran untuk meredakan ketegangan.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Pemerintah Rusia dan Prancis akan terus bekerja sama untuk mempertahankan kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Hal itu ditekankan saat menteri luar negeri kedua negara melakukan pertemuan di Moskow, Senin (9/9).

“Kami sepakat untuk melanjutkan kerja sama dengan tujuan melanggengkan JCPOA pada program nuklir Iran,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Baca Juga

Lavrov mengatakan Rusia menyambut inisiatif yang diajukan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk mencapai kesepakatan guna mencegah bubarnya JCPOA. Hal itu termasuk melindungi kepentingan ekonomi Iran yang sah.

Pada Agustus lalu, tepatnya sesaat sebelum KTT G7 dimulai, Macron sempat melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. Pertemuan itu diagendakan untuk membahas nasib JCPOA.

“Jalan di depan sulit. Tapi patut dicoba,” kata Zarif melalui akun Twitter pribadinya seusai melakukan pembicaraan dengan Macron.

Sementara, Macron mengatakan negara anggota G7 menentang kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. “Tidak ada anggota G7 yang ingin Iran mendapatkan senjata nuklir dan yang kedua semua anggota G7 sangat terikat pada stabilitas serta perdamaian di kawasan itu,” ujar Macron.

Kendati demikian, dia menegaskan bahwa Prancis akan terus menjalin dialog dengan Iran dalam beberapa pekan mendatang. Tujuannya agar ketegangan dapat diredam.

Sejak awal Juli lalu, Iran mulai menangguhkan komitmennya dalam JCPOA. Hal itu merupakan upaya Teheran untuk menekan Eropa agar melindungi aktivitas perdagangannya dari sanksi Amerika Serikat (AS). Washington diketahui telah keluar dari JCPOA tahun lalu.

Langkah pertama yang dilakukan Teheran adalah melakukan pengayaan uranium melampaui ketentuan yang ditetapkan JCPOA, yakni sebesar 3,67 persen. Iran mengklaim saat ini pengayaan uraniumnya telah mencapai lebih dari 4,5 persen. Teheran pun menyatakan siap untuk terus menangguhkan komitmennya dalam JCPOA.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA