Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

IAEA Minta Penjelasan Iran Soal Jejak Uranium

Selasa 10 Sep 2019 11:25 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Para teknisi sedang bekerja di pusat pemrosesan uranium di Iran.

Para teknisi sedang bekerja di pusat pemrosesan uranium di Iran.

Foto: reuters
Iran mulai melakukan pengayaan uranium melebihi batas kesepakatan nuklir.

REPUBLIKA.CO.ID, VIENNA -- Badan Energi Atom Internasional (IAEA) meminta penjelasan Iran mengenai keberadaan jejak uranium yang ditemukan di sebuah situs tanpa mengumumkan kepada lembaga tersebut.

Baca Juga

Badan tersebut juga mengonfirmasi Iran ingin melanggar perjanjian nuklir 2015. Kali ini Iran memasang sentrifugal yang lebih maju sehingga bisa bergerak menuju pengayaan uranium, meski dilarang oleh perjanjian itu.

Para diplomat mengatakan, Iran belum menjelaskan kepada IAEA soal bagaimana partikel uranium diperkaya diproduksi. Rincian inspeksi IAEA bersifat rahasia dan agensi umumnya tidak mengomentarinya.  

Kendati demikian, kepala penjabat IAEA menjelaskan, dalam pertemuan di Teheran pada Ahad lalu, dia mendorong Iran untuk meningkatkan kerja sama dengan pengawas non-proliferasi AS. "Waktu adalah hal yang sangat penting, "ujar penjabat Kepala IAEA Cornel Feruta. "Saya pikir itu adalah pesan yang sangat dipahami," katanya tentang pertemuannya dengan para pejabat termasuk menteri luar negeri Iran dan kepala energi nuklir iran .

IAEA sebelumnya telah mengatakan kepada negara-negara anggota bahwa Iran memiliki waktu dua bulan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, meskipun hanya memberikan deskripsi yang sangat umum tentang masalah ini. Sebab, hal itu bersifat rahasia.

Pada saat yang sama, IAEA yang berbasis di Wina belum membunyikan alarm karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah bagian dari proses panjang yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. "Kami sangat, katakanlah teliti, dan kami setia pada mandat kami," kata Feruta, tanpa menjelaskan secara spesifik. kesepakatan nuklir 2015 atau dikenal dengan Joint Comperhensive Plan on Action (JCPOA) memberi batas syarat Iran dalam memperkaya uranium hanya lebih dari 5.000 mesin centrifuge IR-1 generasi pertamanya. 

Sebagai tanggapan atas sanksi AS yang diberlakukan sejak Washington menarik diri dari kesepakatan pada Mei tahun lalu, Iran telah melanggar batas-batas yang diberlakukannya pada kegiatan atomnya. Pekan lalu, Iran mengancam akan melampaui batas kesepakatan pada penelitian dan pengembangan (istilah yang diterapkan untuk penggunaan sentrifugal canggih teknologi Iran).

Inspektur IAEA juga telah memverifikasi bahwa sejumlah kecil berbagai sentrifugal canggih telah atau sedang dipasang oleh Iran. "Semua sentrifugal yang dipasang telah disiapkan untuk pengujian dengan UF6, meskipun tidak ada yang diuji dengan UF6 pada 7 dan 8 September," katanya merujuk pada bahan baku uranium hexafluoride untuk sentrifugal.

Juru Bicara IAEA mengatakan, bahwa Iran juga telah menginformasikan kepada pihaknya bahwa Iran akan memodifikasi jalur sentrifugal sehingga uranium yang diperkaya diproduksi, yang tidak diizinkan berdasarkan kesepakatan. Dalam laporan rahasia kepada negara-negara anggota, IAEA juga mengatakan Iran telah melakukan modifikasi pada beberapa jalur produksi nuklir.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA