Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Masyarakat Dunia Kurangi Makan Daging Demi Lingkungan

Rabu 11 Sep 2019 07:40 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Daging Sapi (Ilustrasi)

Daging Sapi (Ilustrasi)

Foto: NORTHSTARBISON
Konsumsi daging dan minuman botol menurun dengan alasan menyelamatkan lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Konsumen yang khawatir dengan kerusakan lingkungan mengurangi pembelian daging dan minuman botol demi mereduksi sampah plastik. Survei menunjukkan tren tersebut akan meningkat seiring memburuknya perubahan iklim.

Sepertiga orang yang disurvei khawatir lingkungan semakin memburuk dan setengahnya mengambil langkah aktif untuk mengurangi laju kerusakan lingkungan. Jajak pendapat tersebut dilakukan di 24 negara di Eropa, Amerika Latin, dan Asia.

Baca Juga

"Kami sudah melihat ada sedikit reduksi dalam pembelian daging, minuman botol, dan kategori semacam itu seperti tisu kecantikan," kata perusahaan data analisa Kantar dalam laporan mereka, Rabu (11/9).

Jajak pendapat lebih dari 65 ribu orang tersebut menunjukan sebagian besar konsumen di Eropa barat berusaha mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Sementara, mayoritas konsumen di Asia dan Amerika Latin tidak tertarik dengan isu itu.

"Ketika pasar semakin kaya, fokus dalam isu lingkungan dan plastik meningkat, di masa mendatang, kami berharap dapat melihat ada peningkatan pangsa pasar 'eco active' di negara-negara yang mengalami pertumbuhan Produk Domestik Bruto," kata Kantar.    

Cile menjadi pengecualian di Amerika Latin. Konsumen di negara itu menjadi konsumen yang paling terlibat dalam isu lingkungan di dunia. Jajak pendapat menunjukkan sekitar 37 persen konsumen di Cile aktif berusaha membuat perubahan.

Negara itu disusul Austria dan Jerman serta tidak jauh di belakangnya ada Inggris. Kantar memprediksi penjualan daging segar di Inggris dapat turun hingga 4 persen dalam dua tahun ke depan jika sikap peduli lingkungan terus tersebar.

"Kajian kami menunjukan adanya permintaan tinggi produk-produk yang ramah lingkungan yang harganya kompetitif dan siap pakai," kata Kantar.

Pada bulan lalu Panel Antarpemerintah dalam Perubahan Iklim PBB mengatakan untuk menahan laju pemanasan global konsumsi daging di seluruh dunia harus turun. Makanan berbasis tanaman dapat berkontribusi mengurangi emisi karbon dioksida.  

Perusahaan-perusahaan yang menyediakan daging alternatif itu pun muncul di mana-mana seperti Beyond Meat dan Impossible Food dari California. Perusahaan makanan raksasa Nestle juga meluncurkan burger dari sayur-sayuran.

Kantar mengatakan sekitar 48 persen orang yang disurvei ingin perusahaan-perusahaan melakukan sesuatu untuk mengurangi penggunaan plastik. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Nestle, Coca-cola, Unilever, Walmart, dan Carrefour sudah menandatangani perjanjian pada 2025 nanti kemasan produk mereka menggunakan bahan yang dapat digunakan kembali, didaur ulang atau dikompos. 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA