Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Jerman Siap Cari Solusi Kesepakatan Nuklir dengan Iran

Kamis 12 Sep 2019 01:00 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

    Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran.

Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran.

Foto: Sot Akbar/ISNA/AP
Jerman ingin mempertahankan kesepakatan nuklir dengan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan Eropa bertekad mempertahankan kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Merkel menyatakan akan terus berusaha mencari solusi dengan Iran guna mencegah terjadinya eskalasi. 

"Selangkah demi selangkah kami akan tetap berusaha untuk mencari solusi dengan Iran yang mencegah meningkatnya ketegangan di kawasan yang sensitif secara global," kata Merkel saat berbicara di hadapan majelis rendah parlemen Jerman pada Rabu (11/9). 

Baca Juga

Menurut dia solusi memang perlu ditemukan mengingat Iran terus merencanakan melakukan pengayaan uranium. "Itu tugas kami," ujar Merkel. 

Rusia dan Prancis juga telah mengemukakan tekad mempertahankan JCPOA. Hal itu diumumkan saat menteri luar negeri kedua negara melakukan pertemuan di Moskow pada Senin (9/9). 

“Kami sepakat untuk melanjutkan kerja sama dengan tujuan melanggengkan JCPOA pada program nuklir Iran,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Lavrov mengatakan Rusia menyambut inisiatif yang diajukan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk mencapai kesepakatan guna mencegah bubarnya JCPOA. Hal itu termasuk melindungi kepentingan ekonomi Iran yang sah.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah melaporkan bahwa Iran mulai menginstalasi mesin sentrifugal termutakhir untuk melanjutkan aktivitas pengayaan uraniumnya. Aktivitas pengayaan uranium mulai dilakukan Teheran sejak Juli lalu. 

Seorang juru bicara IAEA mengungkapkan Iran telah menginformasikan bahwa mereka membuat modifikasi untuk mengakomodasi kaskade atau klaster yang saling berhubungan, dari sentrifugal 164 IR2m dan IR-4. “Semua sentrifugal yang dipasang telah disiapkan untuk pengujian dengan UF6, meskipun tidak satu pun dari mereka yang diuji dengan UF6 pada 7 dan 8 September,” kata dia, merujuk pada bahan baku uranium hexafluoride untuk sentrifugal. 

Ia menambahkan Iran telah menyampaikan kepada IAEA bahwa mereka akan memodifikasi jalur sentrifugal penelitian sehingga uranium yang diperkaya diproduksi. Hal itu sebenarnya tak diizinkan di bawah JCPOA.

JCPOA juga hanya memungkinkan Iran memproduksi uranium yang diperkaya dengan lebih dari 5.000 mesin sentrifugal IR-1 generasi pertama. Artinya pemasangan mesin sentrifugal terbaru telah melanggar ketentuan kesepakatan tersebut.

Pada Juli lalu, Iran mengumumkan telah melakukan pengayaan uranium melampaui ketentuan yang ditetapkan JCPOA, yakni sebesar 3,67 persen. Teheran mengklaim saat ini pengayaan uraniumnya telah mencapai lebih dari 4,5 persen.

Iran mengatakan level pengayaan itu memang masih sangat jauh dari yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir. Namun, ia siap melanjutkan aktivitas pengayaan uraniumnya jika perekonomiannya masih dijerat sanksi AS.

AS diketahui telah hengkang dari JCPOA pada Mei 2018. Setelah keluar, Presiden AS  Donald Trump memutuskan menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Mundurnya AS membuat JCPOA goyah dan terancam bubar. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA