Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Protes Atas Aktivis Hong Kong, Cina Panggil Dubes Jerman

Kamis 12 Sep 2019 18:55 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

picture-alliance/dpa/R. Jensen

picture-alliance/dpa/R. Jensen

Cina adalah salah satu mitra bisnis penting bagi Jerman

Duta Besar Cina untuk Jerman, Wu Ken, mengatakan pada Rabu (11/09) bahwa pertemuan yang berlangsung baru-baru ini antara Menlu Heiko Maas dan aktivis Joshua Wong telah mengirimkan "sinyal yang sangat negatif."

Wu Ken mengonfirmasi pihaknya telah secara resmi memanggil Duta Besar Jerman untuk Cina sebagai langkah protes. Pemanggilan ini juga telah dikonfirmasi oleh Kementrian Luar Negeri Jerman.

"Yang terjadi sekarang, sayangnya saya harus mengatakan, akan membawa konsekuensi negatif terhadap hubungan bilateral dan Cina harus bereaksi," ujar Wu.

Cina adalah salah satu mitra bisnis penting bagi Jerman dengan nilai perdagangan mencapai hampir 100 billion Euro (sekitar Rp 1,5 kuadriliun) pada semester pertama 2019. Banyak perusahaan Jerman telah terkena imbas negatif dari perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat.

Politisi asing diperingatkan tidak ikut campur

Wu mengatakan sejumlah kekuatan asing telah terlibat dalam protes yang sedang berlangsung di Hong Kong dan menegaskan kembali seruannya agar politisi asing mundur.

Ia mengatakan: "Kedaulatan dan keamanan Cina harus dihormati. Karena itu saya menyarankan para politisi agar tidak menutupi kejahatan kekerasan dan tidak ikut campur dengan urusan internal Hong Kong dan Cina."

Wu mengatakan kepada wartawan bahwa Beijing telah berulang kali meminta Berlin untuk menolak masuknya Wong ke Jerman.

Duta Besar juga menyuarakan kepercayaan Beijing terhadap pemerintah Hong Kong untuk melaksanakan tugasnya.

'Hong Kong adalah Berlin baru'

Ketika berada di Berlin, Joshua Wong mengatakan kepada wartawan, "Hong Kong adalah Berlin baru dalam Perang Dingin baru," mengatakan itu satu-satunya hal yang berdiri di antara Hong Kong dan dunia yang bebas adalah otoritarianisme Cina.

Wong juga memohon politisi Jerman untuk berhenti mengekspor peralatan kepolisian ke Hong Kong dan secara terbuka mengutuk kekerasan yang dilakukan polisi terhadap pengunjuk rasa.

Dalam sebuah pernyataan dikeluarkan hanya beberapa hari setelah Kanselir Angela Merkel mengatakan kepada para pemimpin Cina bahwa penghormatan terhadap hak asasi manusia "sangat diperlukan," aktivis itu menyarankan Jerman harus menunda pembicaraan perdagangan dengan Beijing sampai masalah hak asasi manusia dimasukkan dalam agenda.

Konfrontasi kekerasan yang semakin parah

Protes di Hong Kong dimulai pada 31 Maret 2019, menentang usulan diberlakukannya undang-undang yang akan membuat pemerintah pusat di Beijing lebih mudah mengekstradisi para buron ke daratan Cina.

Para pengunjuk rasa berpendapat undang-undang itu akan merusak otonomi Hong Kong.

Konfrontasi telah semakin meningkat dalam lima bulan terakhir hingga berakhir rusuh dan akhirnya membuat pemerintah Cina untuk sementara menarik usulan pemberlakuan undang-undang.

Pada 4 September Pemimpin Eksekutif Daerah Khusus Hong Kong, Carrie Lam, akhirnya mencabut RUU ekstradisi itu secara keseluruhan.

Pihak otoritas Beijing mengatakan situasi ini adalah "krisis terburuk di Hong Kong" setelah daerah itu dikembalikan ke Cina oleh Inggris pada 1997.

ae/ts (Reuters, dpa)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA