Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

WHO: Kesalahan Medis Picu 2,6 Juta Kematian di Dunia

Sabtu 14 Sep 2019 14:15 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nashih Nashrullah

Perawatan di Rumah Sakit. Ilustrasi.

Perawatan di Rumah Sakit. Ilustrasi.

Foto: Republika
Kesalahan medis antara lain disebabkan kesalahan diagnosa.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan terdapat lebih dari 138 juta pasien di seluruh dunia yang dirugikan karena kesalahan dokter setiap tahunnya. 

Baca Juga

Hal ini diungkapkan hanya beberapa hari sebelum peringatan World Patients Safety Day, yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran bahwa tragedi ini sedang berlangsung pada Jumat (13/9). 

Menurut koordinator WHO di bidang keselamatan pasien, Neelam Dhingra-Kumar, tiga alasan utama mengapa begitu banyak pasien yang dirugikan adalah kesalahan dalam diagnosa, kesalahan dalam resep obat dan perawatan, dan penggunaan obat yang tidak tepat.

Kendati demikian, banyak fasilitas medis yang menyembunyikan kesalahan tersebut, membuat mereka kemudian tidak mengambil langkah untuk memastikan agar hal ini tidak kembali terjadi. 

"Kesalahan ini terjadi karena sistem perawatan kesehatan tidak dirancang sesuai untuk mengatasi kesalahan ini dan belajar darinya," ujar Dhingra-Kumar dilansir India Today pada Sabtu (14/9). 

Jumlah pasien yang dirugikan atas kesalahan medis merujuk ke negara-negara dengan status ekonomi sedang dan rendah, di mana 80 persen populasi global berada. Karena itu, angka sebenarnya dari korban bisa lebih besar, mengingat di negara-negara maju, satu dari 10 pasien juga menjadi korban kesalahan medis. 

Contoh dari kasus kesalahan medis yang terjadi di negara-negara maju diantaranya adalah pemberian obat dengan cara yang tidak dirancang untuk pasien.

Kemudian, kesalahan dalam transfusi darah dan pengambilan sinar-X, atau dalam kasus yang lebih dramatis, menunjukkan bahwa anggota tubuh yang perlu diamputasi padahal tidak, hingga atau ada bagian di otak yang dianggap membutuhkan pembedahan, padahal tidak. 

“Kurangnya aturan yang jelas di rumah sakit tertentu, hingga komunikasi yang tidak memadai di antara para pekerja menjadi faktor-faktor penyebab kesalahan medis terjadi,” jelas Dhingra-Kumar. 

Untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ini, mulai tahun ini WHO akan merayakan World Patient Safety Day atau Hari Keselamatan Pasien Sedunia setiap 17 September. Hari pertama peringatan ini  akan disimbolkan dengan cahaya warna oranye yang dinyalakan di sejumlah monumen dan fasilitas kesehatan di seluruh dunia.

Piramida di Ibu Kota Kairo, Mesir, Menara di ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, serta Konvensi Eugenio Espejo di Quito akan menjadi salah satu tempat di mana cahaya oranye dinyalakan untuk memperingati hari itu. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA