Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Korea Selatan akan Gunakan Drone Ambulans di Pengunungan

Senin 16 Sep 2019 04:27 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Ratna Puspita

Drone

Drone

Foto: EPA
Drone ambulan untuk mengirimkan pasokan medis darurat kepada korban.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan berupaya mengerahkan drone (pesawat tanpa awak) ambulans di sejumlah gunung populer di negara itu pada tahun depan. Hal itu bertujuan untuk mengirimkan pasokan medis darurat sebagai pertolongan pertama kepada para korban tepat waktu. 

Baca Juga

Dilansir di Yonhap News Agency, Layanan Taman Nasional Korea (KNPS) yang dikelola pemerintah berencana memperkenalkan 32 drone ambulans di 16 taman gunung nasional di seluruh negeri pada tahun depan. Badan yang berafiliasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan itu telah mengalokasikan sekitar 2,08 miliar won (1,75 juta dolar AS) dalam proposal anggaran pemerintah 2020 untuk mendanai proyek tersebut.

KNPS telah mengoperasikan pesawat tanpa awak tersebut berdasarkan uji coba di Gunung Bukhan, sejak Desember 2018. Pesawat ambulan itu membawa defibrillator eksternal otomatis dan menempatkan korban menggunakan teknologi GPS. Selain itu, kamera drone ambulans juga dapat memonitor situasi keselamatan di gunung.

Seorang pejabat KNPS mengatakan peningkatan teknologi lebih lanjut diperlukan di beberapa daerah, seperti kemampuan lokasi yang tepat. “Penelitian dan pengembangan masih berlangsung, dan waktu penempatan akan tergantung pada hasilnya,” kata pejabat itu.

Dilansir di Forbes, CEO Amazon Jeff Bezos mengumumkan rencana perusahaannya menawarkan pengiriman produk 30 menit melalui pesawat tanpa awak sejak Desember 2013. Drone telah dikerahkan militer AS sejak 1970an untuk pengawasan terhadap pergerakan pasukan dan fasilitas senjata, hingga melancarkan serangan terhadap organisasi terorisme.

Teknologi yang sama juga digunakan untuk membantu menyelamatkan nyawa orang. Saat itu, cukup banyak ilmuan dan laboraturium komersial, nirlaba, dan pemerintah yang berupaya mencapai tujuan itu.

Pada Oktober 2014, Universitas Teknologi Delft Belanda mengumumkan salah satu mahasiswanya, Alec Momont mengembangkan prototipe drone yang memberikan defibrillator kepada korban serangan jantung. Drone ambulan itu dipandu GPS ke lokasi ponsel dalam jarak 4,6 mil persegi dalam waktu kurang dari satu menit. Sesampainya di sana, drone menggunakan live streaming audio dan video untuk memungkinkan personel darurat memberikan instruksi tentang cara menggunakan dafibrillator dengan benar, dan mengirimkan tanda-tanda vital pasien. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA