Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kim Jong-un Dilaporkan Undang Trump ke Korut

Senin 16 Sep 2019 09:07 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Presiden AS Donald Trump saat berjalan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hotel Capella di Pulau Sentosa Singapura.

Presiden AS Donald Trump saat berjalan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hotel Capella di Pulau Sentosa Singapura.

Foto: AP
Kim bersedia membahas proses denuklirisasi Semenanjung Korea.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dilaporkan mengundang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengunjungi negaranya. Hal itu dilaporkan surat kabar Korea Selatan (Korsel), Joongang Ilbo, Senin (16/9).

Undangan tersebut disampaikan Kim melalui surat yang dikirim pada Agustus lalu. Seorang sumber yang dikutip Joongang Ilbo mengungkapkan, dalam surat itu Kim menyatakan kesediaannya bertemu Trump untuk membahas proses denuklirisasi Semenanjung Korea.

Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS belum mengonfirmasi tentang undangan tersebut. Misi Korut untuk PBB juga belum mengomentari laporan yang diterbitkan Joongang Ilbo.

Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Korut Choe Son mengatakan negaranya siap memulai kembali perundingan denuklirisasi dengan AS. Dia bahkan berkeinginan melakukan hal itu pada akhir September mendatang.

Namun, Choe menekankan AS perlu menghadirkan pendekatan baru jika tak menginginkan pembicaraan kembali berakhir tanpa kesepakatan. “Saya ingin percaya AS keluar dengan alternatif berdasarkan metode perhitungan yang melayani kepentingan kedua belah pihak dan dapat diterima oleh kami," kata dia.

“Jika AS bermain dengan skenario lama yang tidak ada hubungannya dengan metode baru pada pembicaraan tingkat kerja yang akan diadakan setelah kesulitan, kesepakatan antara kedua belah pihak dapat berakhir,” ujar Choe.

Perundingan denuklirisasi antara AS dan Korut yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada Februari lalu diketahui berakhir tanpa kesepakatan. Hal itu disebabkan karena kedua belah pihak mempertahankan posisinya tentang penerapan sanksi.

Korut, yang telah menutup beberapa situs uji coba rudal dan nuklirnya, meminta AS mencabut sebagian sanksi ekonominya. Namun AS tetap berkukuh tak akan mencabut sanksi apa pun, kecuali Korut telah melakukan denuklirisasi menyeluruh dan terverifikasi.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA