Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Drone tak Dikenal Serang 2 Fasilitas Vital Saudi Aramco

Sabtu 14 Sep 2019 15:35 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nashih Nashrullah

Bendera Arab Saudi.

Bendera Arab Saudi.

Foto: AP/Cliff Owen
Kebakaran terjadi di Abqaiq dan Khura Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH— Serangan pesawat tak berawak (drone) menyebabkan dua fasilitas utama perusahaan minyak terbesar milik Arab Saudi, Saudi Aramco hangus terbakar. 

Baca Juga

Menurut Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, kebakaran yang terjadi di Abqaiq dan Khura itu sudah berhasil dijinakkan setelah upaya pemadaman sejak pukul 4 pagi waktu setempat. 

"Pada pukul 4.00 pagi (01:00 GMT) tim keamanan industri Aramco mulai menangani kebakaran di dua fasilitasnya di Abqaiq dan Khura sebagai akibat dari drone," katanya yang dilansir Republika dari Aljazirah, Sabtu (14/9). 

Meski begitu, Kementerian belum dapat mengidentifikasi sumber serangan itu, dan hanya mengatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung. Hingga kini, belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas kejadian itu.  

Koalisi militer yang dipimpin Saudi telah memerangi pemberontak Houthi Yaman sejak Maret 2015, dan kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya. 

Bulan lalu, serangan yang diklaim Houthi memicu kebakaran di fasilitas pencairan gas alam Shaybah Aramco, meski tidak ada laporan jatuhnya korban.  

Sebuah video menunjukkan asap mengepul di atas fasilitas minyak raksasa di Abqaiq. Video itu juga merekam adanya suara tembakan.  

Saudi Aramco menggambarkan fasilitas pemrosesan minyak di Abqaiq sebagai pabrik stabilisasi minyak mentah terbesar di dunia. Fasilitas ini mengolah minyak mentah menjadi minyak mentah, kemudian diangkut ke titik pengangkutan di Teluk dan Laut Merah. 

Setiap harinya, sekitar tujuh juta barel minyak mentah diolah disana. Pabrik itu telah menjadi sasaran pelaku bom bunuh diri yang mencoba mengerang kompleks minyak pada awal 2006 lalu, tapi gagal. 

Osama Bin Javaid dari Aljazirah, yang telah meneliti kepentingan strategis raksasa minyak itu dalam film dokumenternya yang berjudul Saudi Aramco: The Company and the State, mengatakan serangan itu akan menjadi pukulan besar bagi produksi minyak. "Saudi Aramco bukan perusahaan biasa. Ini adalah perusahaan yang mengelola negara," katanya.

"Kami tidak tahu berapa banyak fasilitas telah rusak tetapi ini akan menurunkan produksi minyak Saudi ke sebagian kecil dari seperti apa sekarang. Ini juga akan berdampak pada produksi minyak global," sambungnya.  

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA