Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Desa Rohingya di Myanmar Dihancurkan untuk Gedung Pemerintah

Selasa 10 Sep 2019 19:36 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Citra satelit dari Human Rights Watch / Digital Globe ini menunjukkan empat desa di kota Maungdaw, negara bagian Rakhine utara, Myanmar pada 2 Desember 2017.

Citra satelit dari Human Rights Watch / Digital Globe ini menunjukkan empat desa di kota Maungdaw, negara bagian Rakhine utara, Myanmar pada 2 Desember 2017.

Foto: Human Rights Watch/Digital Globe via AP
Setidaknya 40 persen dari desa Rohingya telah sepenuhnya dihancurkan.

REPUBLIKA.CO.ID, NAYPYDAW -- Seluruh desa Muslim Rohingya di Myanmar telah dihancurkan dan digantikan oleh barak polisi, gedung-gedung pemerintahan, dan kamp-kamp relokasi pengungsi. Hal itu terungkap dalam laporan BBC, Selasa (10/9)

Dalam tur pemerintah, BBC melihat empat lokasi dimana fasilitas yang aman telah dibangun di tempat yang sebelumnya merupakan pemukiman Rohingya. Sementara itu, para pejabat membantah sejumlah bangunan di atas desa-desa di negara bagian Rakhine.

Pada 2017, lebih dari 700 ribu Rohingya melarikan diri dari Myanmar selama operasi militer. PBB menggambarkannya sebagai pembersihan etnis. Sedangkan Myanmar membantah tuduhan pembunuhan besar-besaran oleh pasukannya.

Myanmar, negara mayoritas Buddha, terus menyangkal pasukannya melakukan pembersihan etnis dan genosida. Namun, saat ini mereka disebut telah siap mengambil kembali beberapa pengungsi.

Akan tetapi bulan lalu, upaya kedua untuk mulai memulangkan pengungsi Rohingya gagal, setelah tidak ada satu pun dari 3.450 orang, yang disetujui kembali pulang. Mereka menyatakan ketidakpastian apakah mereka akan mendapatkan kebebasan bergerak, atau pun kewarganegaraan.

Di samping itu, Myanmar menyalahkan Bangladesh dan mengatakan siap menerima sejumlah besar pengungsi yang kembali. Untuk menunjukkan hal ini, mereka mengundang jurnalis, termasuk BBC, untuk melihat fasilitas yang telah mereka buat.

Akses ke Rakhine biasanya begitu terbatas. Para jurnalis bepergian dalam konvoi pemerintah dan tidak diizinkan merekam atau mewawancarai orang-orang tanpa pengawasan polisi. Tetapi mereka dapat melihat bukti yang jelas tentang pemberantasan komunitas Rohingya secara sengaja.

Menurut Australian Strategic Policy Institute, yang telah menganalisis citra satelit, mereka memperkirakan setidaknya 40 persen dari desa Rohingya telah sepenuhnya dihancurkan. Pemerintah membawa jurnalis ke kamp transit Hla Poe Kaung, yang disebut dapat menampung 25 ribu orang. Mereka akan tinggal selama dua bulan sebelum pindah ke perumahan permanen.

Kamp, yang selesai hampir setahun yang lalu berada dalam kondisi buruk, toilet umumnya terlihat berantakan. Itu dibangun di situs dua desa Rohingya, Haw Ri Tu Lar dan Thar Zay Kone, yang dihancurkan setelah kekerasan 2017.

Ketika jurnalis BBC bertanya kepada administrator kamp, ​​Soe Shwe Aung perihal mengapa mereka menghancurkan desa-desa, namun ia menyangkal ada yang dibongkar. Tetapi saat diperlihatkan gambar satelit yang menunjukkan sebaliknya, dia mengatakan baru saja mengambil pekerjaan itu, dan tidak dapat menjawabnya.

Baca Juga

Kemudian mereka dibawa ke Kyein Chaung, sebuah kamp relokasi di mana rumah-rumah telah dibangun dengan dana pemerintah Jepang, dan India sebagai akomodasi jangka panjang untuk pengungsi. Namun, sebuah desa Rohingya bernama Myar Zin dihancurkan untuk kamp ini.

Ini terletak dekat dengan barak besar baru untuk Border Guard Police, unit pasukan keamanan yang dituduh oleh Rohingya melakukan pelanggaran serius pada 2017. Berbicara di luar kamera, para pejabat di sana mengonfirmasi pembongkaran Myar Zin.

Tepat di luar kota utama, Maungdaw, yakni Myo Thu Gyi, yang dulunya berpenduduk lebih dari 8.000 Rohingya. Pada September 2017, jurnalis BBC membuat film. Ada banyak rumah telah terbakar, tetapi bangunan yang lebih besar masih utuh, dan pohon-pohon mengelilingi desa Rakhine. Namun sekarang, melewati tempat Myo Thu Gyi, terdapat kompleks pemerintahan dan polisi yang besar, sementara pohon-pohon sudah tidak ada lagi.

Mereka juga dibawa ke Inn Din, sebuah desa yang terkenal karena pembantaian 10 pria Muslim yang ditangkap pada September 2017. Ini merupakan salah satu dari sedikit kekejaman yang diakui oleh militer Myanmar.

Sekitar tiga perempat populasi Inn Din merupakan Muslim, sisanya beragama Buddha Rakhine. Kini tidak ada jejak Muslim yang tersisa. Saat berada di tempat rumah Rohingya dahulu, pohon-pohon telah hilang, digantikan oleh pagar kawat berduri, yang disertai barak-barak Border Guard Police baru.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA