Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Israel Gelar Pemilu Putaran Kedua

Selasa 17 Sep 2019 12:53 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Sebuah billboard kampanye dengan foto pemimpin Partai Blue and White Benny Gantz di sebuah kota Arab Baqa al-Gharbiyye di utara Israel, Senin (16/9). Israel menggelar pemilu pada 17 September 2019.

Sebuah billboard kampanye dengan foto pemimpin Partai Blue and White Benny Gantz di sebuah kota Arab Baqa al-Gharbiyye di utara Israel, Senin (16/9). Israel menggelar pemilu pada 17 September 2019.

Foto: AP Photo/Ariel Schalit
Pemungutan suara berakhir pada 22.00 waktu setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Warga Israel memberikan suara dalam pemilihan umum kedua, Selasa (17/9). Pemilu tersebut merupakan yang kedua dalam lima bulan.

Dilansir di BBC, jajak pendapat akhir menempatkan Partai Likud sayap kanan Netanyahu bersaing ketat dengan penantang utamanya, Partai Blue and White yang dipimpin mantan kepala militer, Benny Gantz. Sementara partai-partai yang lebih kecil dianggap dapat memiliki suara besar dalam hasil akhir.

Negosiasi mengenai pembentukan koalisi baru diharapkan akan dimulai segera setelah pemungutan suara berakhir pada 22.00 waktu setempat dan exit poll diumumkan. Sebelumnya Partai Likud dan Blue and White memiliki masing-masing 35 kursi di 120 kursi parlemen (Knesset).

Dalam kampanye pada pekan lalu, Netanyahu menyatakan akan menerapkan kedaulatan Israel di Lembah Yordan jika ia memenangkan rekor masa jabatan kelima. Pengumuman tersebut merupakan janji untuk secara efektif mencaplok 30 persen dari Tepi Barat yang diduduki.

Palestina menginginkan wilayah tersebut untuk menjadi bagian dari negaranya di masa depan. Di tengah kecaman internasional, kepemimpinan Palestina menyebut tindakan itu sebagai kejahatan perang, yang akan mengubur prospek perdamaian.

Baca Juga

photo

Netanyahu juga menegaskan kembali janji dari pemilihan terakhir untuk mencaplok permukiman Yahudi di Tepi Barat. Permukiman tersebut dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional, meskipun Israel membantahnya.

"Kami menemukan diri kami berada pada titik puncak dari perubahan bersejarah dalam sejarah orang-orang Yahudi dan Negara Israel," tulis Netanyahu dalam surat kabar Maariv, Senin (16/9).

Di samping itu, Netanyahu menghadapi saingan yang dipenuhi para pensiunan jenderal. Mereka menyatakan akan mengakhiri perpecahan Israel yang meningkat.

Gantz menulis di Maariv kemenangan bagi Blue and White akan mengubah arah kapal negara demokrasi Israel. Partai ini sebelumnya ia dirikan pada Februari bersama mantan Menteri Keuangan Yair Lapid, pemimpin partai Yesh Atid.

"Tidak mencari kepentingan kelompok penekan, tetapi lebih kepada pemerintahan yang memperhatikan mayoritas warga Israel," kata Gantz.

Tidak jelas posisi Gantz terkait rencana Netanyahu mencaplok permukiman Yahudi, dan Lembah Yordan. Ia juga belum mengatakan apakah ia menerima gagasan negara Palestina, meskipun ia menolak mundur dari semua Tepi Barat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA