Selasa 17 Sep 2019 14:45 WIB

Donald Trump Bantah Janjikan Perlindungan Bagi Saudi

Iran dituding menjadi pelaku serangan ke dua fasilitas minyak Arab Saudi.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini
Presiden AS Donald Trump dalam Pertemuan KTT G7 di Biarritz, Prancis.
Foto: Christian Hartmann, Pool via AP
Presiden AS Donald Trump dalam Pertemuan KTT G7 di Biarritz, Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah menjanjikan perlindungan kepada Arab Saudi. Negara Timur Tengah itu menyatakan serangan ke dua fasilitas Aramco pada Ahad (15/9) lalu menggunakan senjata Iran. Mereka juga mendesak pakar PBB untuk membantu menyelidiki serangan tersebut.

"Tidak, saya tidak menjanjikan Arab Saudi itu (perlindungan), kami harus duduk bersama dengan Arab Saudi dan menyelesaikan sesuatu, ini serangan di Arab Saudi dan tidak menyerang kami, tapi pasti kami akan membantu mereka," kata Trump, Selasa (17/9).

Baca Juga

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan Iran tidak hanya mengancam Arab Saudi. Tapi juga seluruh Timur Tengah dan dunia. Mohammed bin Salman (MbS) tidak menyinggung Teheran secara langsung.

Tapi dalam pernyataannya Kementerian Luar Negeri Arab Saudi melaporkan MbS meminta masyarakat internasional untuk mengecam siapa pun yang melakukan serangan ini. Selama beberapa dekade terakhir Arab Saudi dan Iran berselisih memperebutkan pengaruh di Timur Tengah.  

"Kerajaan Arab Saudi mampu mempertahankan tanah air dan rakyat dan merespon serangan ini dengan sekuat tenaga," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi.

Dua orang sumber mengatakan mungkin butuh waktu berbulan-bulan bagi Aramco agar bisa kembali beroperasi secara normal. Prediksi sebelumnya hanya beberapa pekan.

Arab Saudi mengatakan walaupun beberapa pengiriman akan terganggu mereka masih dapat memenuhi permintaan konsumen dengan cadangan mereka. Setidaknya ada 11 tanker super di pelabuhan Arab Saudi yang sedang menunggu pasokan minyak untuk dikirimkan ke konsumen.

Ketegangan minyak di kawasan Teluk meningkat secara drastis setelah Trump memberlakukan sanksi kepada Iran. Sanksi yang membuat Iran tidak dapat menjual minyak mereka.

Selama berbulan-bulan pemerintah Iran sudah memberikan ancaman. Jika ekspor minyak Teheran diblokir maka negara lain juga tidak dapat melakukannya. Tapi Iran selalu membantah tuduhan berperan dalam beberapa serangan tertentu termasuk pengeboman kapal-kapal tanker di Teluk yang diklaim pemberontak Houthi.  

Trump mengatakan 'sanksi maksimal' yang ia terapkan kepada Iran bertujuan agar Negara Seribu Mullah itu bersedia menggelar negosiasi ulang. Ia membuka kemungkinan untuk bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani di sela Sidang Umum PBB. Iran menegaskan tidak akan bertemu dengan Washington untuk mencabut sanksi.

Dalam rapat Dewan Keamanan PBB, Utusan PBB untuk Yaman Martin Griffiths mengatakan 'belum sepenuhnya diketahui' siapa yang dibalik serangan. Tapi ia mengatakan serangan itu meningkatkan kemungkinan konflik kawasan.

Namun, Duta Besar AS untuk PBB Kelly Craft mengatakan berdasarkan informasi yang muncul 'menunjukan tanggung jawab terletak pada Iran'. Craft menambahkan tidak ada bukti serangan tersebut dilakukan dari Yaman.

Pasukan Houthi yang didukung Iran berjanji akan ada serangan-serangan lain. Juru bicara militer Houthi Yahya Serea mengatakan kelompoknya yang melakukan serangan itu dengan drone yang beberapa diantaranya diperkuat mesin jet.

"Kami pastikan pada rezim Arab Saudi senjata jarak jauh kami dapat mencapai tempat mana pun dan kapan pun yang kami pilih, kami memperingatkan perusahaan dan pihak asing yang berada di dekat pabrik yang kami serang karena mereka masih berada dalam pandangan kami," cicit Serea di Twitter.

Pemerintah AS mengatakan mereka yakin serangan itu berasal dari arah yang berlawanan. Kemungkinan dari Iran bukan dari Yaman. Menurut AS, serangan itu mungkin melibatkan rudal jelajah. Di mana serangan itu diluncurkan AS yakin Iran yang harus disalahkan.

Serangan menimbulkan pertanyaan bagaimana Arab Saudi salah satu negara yang memiliki persenjataan paling canggih. Senjata yang sebagai besar dari AS gagal melindungi diri mereka dari serangan.

Rusia pun melihat peluang bisnis dari insiden tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya siap membantu Arab Saudi menyediakan sistem pertahanan udara untuk melindungi infrastruktur mereka. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement