Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

AS Tuding Serangan ke Saudi Berasal dari Barat Daya Iran

Rabu 18 Sep 2019 05:21 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Friska Yolanda

Foto satelit pada Sabtu (14/9) menunjukkan asap hitam membubung berasal dari kebakaran di fasilitas pemrosesan minyak milik perusahaan Saudi Aramco di Buqyaq, Arab Saudi.

Foto satelit pada Sabtu (14/9) menunjukkan asap hitam membubung berasal dari kebakaran di fasilitas pemrosesan minyak milik perusahaan Saudi Aramco di Buqyaq, Arab Saudi.

Foto: Planet Labs Inc via AP
Iran telah menyangkal serangan tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Amerika Serikat (AS) percaya serangan yang melumpuhkan fasilitas minyak di Arab Saudi akhir pekan lalu berasal dari barat daya Iran. Tiga pejabat, AS berbicara dengan syarat anonim, mengatakan serangan itu melibatkan rudal jelajah dan drone. 

Dikutip Reuters, itu menunjukkan bahwa mereka melibatkan tingkat kompleksitas dan kecanggihan yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Para pejabat tidak memberikan bukti atau menjelaskan intelijen AS apa yang mereka gunakan untuk evaluasi. Pernyataan tersebut jika disebarkan ke publik, maka dapat menekan Washington, Riyadh dan yang lainnya untuk merespons secara militer.

Iran membantah terlibat dalam serangan tersebut. Sementara itu sekutu Iran dalam perang saudara Yaman, gerakan Houthi, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Houthi menyampaikan bahwa mereka menabrak tanaman dengan drone, beberapa di antaranya ditenagai oleh mesin jet.

Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump pada mengatakan tampak seolah-olah Iran yang memiliki sejarah panjang dengan negara tetangga Arab Saudi, berada di balik serangan itu. Tetapi bahwa sekutu AS tetap tidak yakin, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan dia tidak yakin apakah ada yang memiliki bukti untuk mengatakan drone datang dari satu tempat atau yang lain.

Selanjutnya, setelah serangan yang mengurangi separuh produksi minyak Arab Saudi berusaha meyakinkan pasar. Bahkan sekarang sudah bisa memproduksi penuh sekarang kembali.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengesampingkan pembicaraan dengan Amerika Serikat kecuali pemerintah Trump kembali ke perjanjian nuklir antara Iran dan Barat yang ditinggalkan Amerika Serikat tahun lalu. Para pejabat Iran, pada tingkat apa pun, tidak akan pernah berbicara dengan para pejabat Amerika 

"Ini adalah bagian dari kebijakan mereka untuk menekan Iran," tegasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA