Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Pemilu Israel Kembali Alami Kebuntuan

Kamis 19 Sep 2019 00:25 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Ketua Arab Joint List Ayman Odeh di Tel Aviv, Israel, 5 September 2019.

Ketua Arab Joint List Ayman Odeh di Tel Aviv, Israel, 5 September 2019.

Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Arab Joint List yang tidak pernah memiliki kursi di pemerintahan tampil kuat kali ini

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Dua partai besar Israel mengalami kebuntuan dalam pemilihan umum ulang. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan kekuasaannya.

Mantan menteri pertahanan Netanyahu, Avigdor Lieberman menjadi kunci pemilihan kali ini. Lieberman bersikeras menyatukan pemerintah sekuler antara partai Likud yang mengusung Netanyahu dan Blue and White yang dipimpin Benny Grantz.

Tanpa dukungan Lieberman, baik Netanyahu maupun Grantz tidak dapat mengamankan kursi mayoritas di parlemen. Hasil pemilihan belum diumumkan. Lieberman yakin keseluruhan gambarannya tidak banyak berubah. Ia meminta pemerintah sekuler 'liberal' memangkas pengaruh kelompok Yahudi ultra-ortodok yang menjadi sekutu lama Netanyahu.

"Kesimpulannya jelas, semua yang kami katakan selama kampanye menjadi kenyataan, hanya ada satu dan satu-satunya pilihan; pemerintah gabungan nasional yang luas dan liberal dan kami tidak akan bergabung dengan pilihan yang lain," kata Lieberman di depan rumahnya di Tepi Barat, Rabu (18/9).

Hal ini bisa menimbulkan masalah serius bagi Netanyahu yang ingin melanjutkan kekuasaannya. Mantan perwira militer Gantz menolak duduk bersama dengan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu.

Beberapa pekan kedepan perdana menteri diperkirakan akan didakwa tuduhan korupsi, memicu spekulasi Likud akan memunculkan calon alternatif untuk menantang Netanyahu. Tapi sebagian besar pemimpin partai itu berjanji tetap berdiri kukuh dibelakang Netanyahu.

Netanyahu yang mengincar masa jabatan kelima kesulitan untuk mendapatkan kursi mayoritas di parlemen. Pemimpin terlama dalam sejarah Israel itu berharap dapat mengesahkan undang-undang yang membuatnya kebal terhadap dakwaan.

Jaksa Agung Israel telah mengeluarkan rekomendasi mendakwa Netanyahu dengan tuduhan penyuapan, penipuan dan penyelewengan wewenang di tiga skandal. Sidang yang sudah lama ditunggu dijadwalkan akan digelar beberapa pekan ke depan. Jika ia tidak memiliki kekebalan hukum dakwaan formal akan meningkatkan tekanan terhadap Netanyahu untuk turun dari jabatannya.

Data terakhir yang dirilis Komisi Pemilihan Umum Pusat menunjukan Blue and White memiliki 32 dari 120 kursi. Lebih banyak dibandingkan Likud yang memiliki 31 kursi. Perhitungan ini berdasarakan 63 suara dengan tingkat partisipasi 69,4 persen.

Likud mengaku hasil internal mereka menunjukan partai itu mendapatkan 55 kursi. Angka itu gabungan dari sekutu ultra-nasionalis dan ortodok mereka. Jumlahnya masih kurang enam kursi yang dibutuhkan untuk menjadi mayoritas. 

Sementara Blue and White berserta sekutunya mendapatkan 56 kursi. Partai Lieberman, Yisrael Beiteinu meraih sembilan kursi karena itu ia menjadi kunci pemilihan umum kali ini.

Pemerintahan gabungan dua partai hanya pernah terjadi setelah pemilihan umum 1984. Dua pemimpin partai bergantian menjadi pemimpin negara.

Arab Joint List yang tidak pernah memiliki kursi di pemerintahan juga tampil kuat dalam pemilihan kali ini. Mereka meraih 13 kursi dan menjadi partai ketiga terbesar di parlemen. Jika pemerintahan gabungan dibentuk maka Joint List yang dipimpin Ayman Odeh akan menjadi oposisi.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA