Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Warga Malaysia: Setiap Tahun Kami Merasakan Asap

Kamis 19 Sep 2019 10:39 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Asap menyelimuti Kuala Lumpur Tower di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (18/9). Malaysia diselimuti asap akibat kebakaran hutan di Indonesia.

Asap menyelimuti Kuala Lumpur Tower di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (18/9). Malaysia diselimuti asap akibat kebakaran hutan di Indonesia.

Foto: AP Photo/Vincent Thian
Warga Malaysia menganggap kabut asap kali ini

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Sejumlah daerah di Malaysia terdampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Kecewa oleh kembalinya kabut asap, rakyat Malaysia tidak berdaya menghadapi udara yang suram.

Pada Rabu (18/9) waktu setempat, kualitas udara di 10 wilayah Malaysia berada dalam kisaran sangat tidak sehat. Akibat udara yang tak nyaman, hampir 1.500 sekolah ditutup secara nasional.

Pada pukul 15.00 waktu setempat, Shah Alam mencatat Indeks Pencemar Udara (API) 221, tertinggi kedua di negara bagian Selangor setelah Johan Setia di Klang pada 260. Penjaga keamanan yang tinggal di Shah Alam selama 43 tahun, Abu Talip (56 tahun) mengatakan dia hampir tidak bisa bernapas.

"Shah Alam selalu dilanda kabut asap. Ini sangat buruk sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, tetapi jika Anda bertanya kepada saya, kali ini adalah salah satu yang terburuk yang pernah saya rasakan," katanya dilansir Channel News Asia, Kamis (19/9).

"Kabut asap memang kejadian yang umum di Malaysia sehingga para warganya hanya mengesampingkan dan menyebutnya musim kabut, seperti halnya musim hujan atau musim kemarau. Seharusnya tidak seperti itu sama sekali," ujar Talip.

Guru bahasa Inggris dari Shah Alam, Khadijah Ratnam mengatakan aktivitas dan kemajuan siswa terpengaruh ketika sekolah ditutup. "Saya tahu banyak siswa saya sangat senang dengan penutupan sekolah, tetapi kenyataannya adalah kabut itu buruk bagi kesehatan mereka. Dan juga itu mempengaruhi kemajuan kami dalam melaksanakan silabus," katanya.

Sementara orang-orang Malaysia jengkel pada kabut lintas-perbatasan, pihak berwenang Indonesia menilai kabut asap yang menyelimuti Semenanjung Malaysia dan Sarawak disebabkan kebakaran di Malaysia. Jakarta juga menyebut perusahaan-perusahaan milik Malaysia di antara pelaku yang membakar tanah mereka di Indonesia.

Menteri Malaysia yang mengawasi lingkungan Yeo Bee Yin mengatakan, pemerintah Indonesia harus melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut. Mahasiswa teknik Chow Sim Zhe (22) mengatakan, dia dan teman-teman sekelasnya harus menghadapi kabut asap untuk menghadiri kelas karena universitas tidak ditutup.

Baca Juga

"Tapi di hari lain salah satu kelas saya dibatalkan karena dosen saya mengalami serangan pernapasan," katanya.

Namun, Khadijah mengatakan sebagai orang Malaysia dia marah karena Indonesia yang membuat dampak asap bagi Malaysia. Meurutnya, setiap tahun warga Malaysia mengalami ini.

"Selama bertahun-tahun karena menghormati hubungan bilateral mungkin, pemerintah kita hanya mencoba mengelola situasi dengan menutup sekolah dan melakukan penyemaian awan. Tapi berapa lama lagi kita bisa melakukan ini? Saya sudah tua dan saya masih bekerja karena saya harus menjaga keluarga saya.  Situasi ini tidak baik bagi saya dan bagi banyak orang di sini. Saya berharap perdana menteri kami dan para pemimpin Indonesia dapat melakukan sesuatu tentang hal itu" kata Khadija.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA