Ahad 22 Sep 2019 10:29 WIB

Demo Perubahan Iklim di Paris Berlangsung Ricuh

Polisi menangkap lebih dari 100 orang saat demo perubahan iklim yang berakhir ricuh

Demonstran membakar barikade saat demonstrasi perubahan iklim di Paris, Sabtu (21/9)
Foto: Thibault Camus/AP
Demonstran membakar barikade saat demonstrasi perubahan iklim di Paris, Sabtu (21/9)

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Demontrasi perubahan iklim yang damai di Paris pada Sabtu (21/9), dihentikan setelah disusupi oleh kelompok-kelompok protes lainnya. Kelompok demonstran anarkis bergabung, memecahkan jendela dan membakar barikade jalanan.

Beberapa orang meninggalkan pawai ketika bentrokan kekerasan mendorong polisi Prancis, yang sebelumnya dituduh melakukan kekerasan berlebihan, untuk menembakkan gas air mata dan menangkap lebih dari 100 orang. Dilansir dari BBC, Ahad (22/9), disebutkan, operasi keamanan besar melibatkan 7.000 petugas polisi.

Terdapat dua demonstrasi yang diizinkan yakni perubahan iklim dan protes menentang reformasi pensiun. Sementara demonstrasi lainnya, termasuk demonstrasi oleh kelompok anti-pemerintah 'rompi kuning', berjalan secara ilegal.

Sebagian besar kekerasan dan vandalisme dikaitkan dengan apa yang disebut kelompok blok hitam, yang mengenakan syal hitam, kacamata hitam dan penutup kepala untuk menutupi wajah mereka.

Gerakan gilets jaunes (rompi kuning) dipicu sepuluh bulan lalu oleh kenaikan harga bahan bakar dan berkembang menjadi protes anti-pemerintah mingguan yang berlanjut hingga musim semi.

Sebagian besar dari mereka yang memprotes pada Sabtu (21/9) tidak memakai rompi fluorescent kuning khas mereka, sehingga tidak terlihat menonjol. Ketika kekerasan memburuk, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan kelompok-kelompok pengunjuk rasa.

Sebuah video yang diposting di Twitter menunjukkan pemrotes perubahan iklim menutupi mulut mereka saat gas air mata dari lokasi yang lebih jauh terbawa oleh angin.

Greenpeace mengatakan kepada pengunjuk rasa perubahan iklim untuk meninggalkan pawai karena kondisinya tidak sesuai untuk protes tanpa kekerasan. Salah satu pengunjuk rasa pada Sabtu mengatakan kepada media Prancis bahwa mereka terus memprotes karena ketidakadilan, tetapi mengatakan mereka khawatir tentang citra buruk dari rompi kuning.

"Aku bukan preman," kata si pemrotes bersikeras.

Protes rompi kuning, yang kehilangan momentum selama musim panas, sering dinodai oleh kekerasan, beberapa di antaranya disalahkan pada blok hitam. Protes awal tahun ini mendorong Macron untuk memperkenalkan reformasi termasuk pemotongan pajak dan pemerintahan yang lebih terdesentralisasi.

Protes pada hari Sabtu mengganggu Hari Warisan Budaya Prancis, ketika situs-situs terkenal membuka pintu bagi publik. Pada hari Jumat, Presiden Macron mengatakan hal itu bagus bahwa orang dapat mengekspresikan diri mereka, tetapi meminta agar protes berjalan dengan cara yang "tenang". Dia belum mengomentari kericuhan pada Sabtu. (Idealisa Masyrafina)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement