Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Prancis Utamakan Deeskalasi AS-Iran di Sidang PBB

Senin 23 Sep 2019 12:41 WIB

Red: Ani Nursalikah

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian

Foto: Reuters/Charles Platiau
Prancis menjadi penengah antara AS dan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan meredakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi tujuan utama negaranya dalam pertemuan Sidang Majelis Umum PBB pekan ini, Ahad (22/9). Dia mengatakan pertemuan antara kedua presiden bukanlah prioritas utama.

"Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden (Iran) Hassan Rouhani menjadi nomor sekian. Prioritas utamanya adalah apakah kami dapat memulai kembali jalur deeskalasi dengan aktor yang berbeda," katanya kepada awak media.

Prancis memimpin upaya Eropa untuk menyejukkan hubungan antara Washington dan Teheran yang memanas. Namun, upaya itu terhenti karena Iran mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir 2015 dengan negara besar dunia. Hal itu terjadi sejak AS mundur dari perjanjian tersebut tahun lalu dan menolak melonggarkan sanksi yang telah mencekik perekonomian Iran.

Serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi di mana AS menuding Iran juga memperumit masalah tersebut. Harapan pada akhir Agustus bahwa Trump dan Rouhani dapat bertemu di PBB tampaknya hal yang mustahil.

Iran membantah tudingan keterlibatan dalam serangan tersebut. Namun, al Houthi Yaman, kelompok dukungan Iran yang memerangi koalisi pimpinan Saudi dalam perang sipil Yaman, mengaku bertanggung jawab atas serangan 14 September.

"Jalan menuju dialog sudah ada, namun parameter untuk perundingan telah dikurangi dan marginnya dipersingkat," kata Le Drian.

Prancis menggantungkan upayanya dengan menawarkan Iran jalur kredit senilai 15 miliar dolar AS yang bakal memungkinkan penjualan minyak milik AS. Hal itu dengan imbalan Iran sepenuhnya kembali pada perjanjian nuklir dan membuka perundingan yang lebih luas tentang aktivitas nuklirnya di masa depan, yakni program rudal balistik dan pengaruh kawasan.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA