Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Mike Pompeo Tolak Saksi untuk Pemakzulan Trump

Kamis 03 Oct 2019 00:15 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Menteri Luar Negeri AS Mike Richard Pompeo.

Menteri Luar Negeri AS Mike Richard Pompeo.

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Upaya mengintimidasi saksi termasuk menghalangi penyelidikan pemakzulan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menolak permintaan Partai Demokrat untuk menyediakan saksi dalam investigasi pemakzulan Presiden Donald Trump. Dia tidak memberikan izin untuk menghadirkan lima orang dan mantan pejabat di dalam departemennya.

Pompeo menulis kepada komite urusan luar negeri untuk tidak terlibat dalam upaya pemakzulan Trump. Dia mengatakan, Partai Demokrat berupaya untuk mengintimidasi, menggertak, dan memperlakukan secara tidak pantas para pejabat. Jadwal untuk melakukan wawancara saksi pun tidak bisa bisa dilaksanakan.

Dalam keterangan yang dilaporkan The Guardian, Pompeo mengatakan, kecepatan investigasi menimbulkan keprihatinan hukum dan prosedural. "Saya tidak akan mentoleransi taktik seperti itu, dan saya akan menggunakan segala cara yang saya miliki untuk mencegah dan mengekspos segala upaya untuk mengintimidasi para profesional yang berdedikasi," ujarnya.

Sejak Partai Demokrat mengumumkan penyelidikan pemakzulan pekan lalu, Departemen urusan Luar Negeri, intelijen dan pengawasan menyisihkan waktu untuk mencari dokumen dan kesaksian. Ketua komite Eliot Engel, Adam Schiff, dan Elijah Cummings, menampik kritik Pompeo.

"Setiap upaya mengintimidasi saksi atau mencegah mereka berbicara dengan Kongres, termasuk pegawai departemen luar negeri adalah ilegal dan akan menjadi bukti penghalang penyelidikan pemakzulan," kata komite tersebut dalam pernyataan bersama.

Sebanyak empat dari lima saksi yang dipanggil adalah pegawai departemen luar negeri dan mereka tidak boleh hadir. Mereka termasuk mantan duta besar untuk Ukraina Marie Yovanovitch, dia ditarik dari jabatannya pada Mei dengan persetujuan Pompeo. Dia saat ini sedang cuti panjang di Universitas Georgetown.

Hanya Kurt Volker selaku mantan utusan khusus Ukraina yang bertindak sebagai sukarelawan paruh waktu dan mengundurkan diri pada Jumat lalu akan hadir. Volker mengonfirmasi akan berbicara dengan tiga komite House of Representatives pada 3 Oktober. Pejabat itu juga mengatakan, Yovanovitch akan muncul pada 11 Oktober, tanggal yang baru disepakati dengan komite setelah dia awalnya dijadwalkan muncul pada Rabu.

Laporan ABC News menyatakan, inspektur jenderal departemen luar negeri dijadwalkan untuk hadir di kongres pada hari Rabu sore. Dia akan memberikan dokumen dari kantor penasihat hukum departemen. Dokumen-dokumen yang dibahas dianggap terkait dengan hubungan dengan Ukraina dan kolaborasi antara diplomat AS dan pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani.

Pompeo sendiri menerima panggilan pengadilan dari komite untuk menyerahkan dokumen terkait penyelidikan Ukraina. Dia mengatakan akan merespons hingga batas waktu 4 Oktober. Dia pun diduga berpartisipasi dalam panggilan Trump kepada presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada bulan Juli. Trump mendesak Zelenskiy untuk menyelidiki tuduhan yang tidak berdasar terhadap mantan wakil presiden Joe Biden dan putranya, Hunter.

Tiga ketua komite yang terlibat dalam upaya pemakzulan Trump mengatakan, jika laporan tentang panggilan Pompeo benar. Dia telah menjadi saksi fakta dalam penyelidikan pemakzulan yang sedang berjalan. "Dia harus segera berhenti mengintimidasi saksi departemen untuk melindungi dirinya sendiri dan presiden," ujar pernyataan bersama.

Kejadian penghalangan ini bukan kali pertama. Gedung Putih telah menghalang banyak penyelidikan kongres, contoh saja pada Bulan lalu, mantan sekretaris staf Gedung Putih  Rob Porter dan wakil kepala staf Rick Dearborn menentang panggilan dari pengadilan mengenai penyelidikan khusus Robert Mueller tentang penyelidikan Rusia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA