Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Republik Demokratik Jerman Timur, Sebuah Eksperimen Otoriter Yang Gagal

Rabu 09 Oct 2019 04:01 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

picture-alliance/ZB

picture-alliance/ZB

Sejak Perang Dunia Kedua tahun 1945 Jerman praktis terpecah dua.

Republik Demokratik Jerman, atau lebih dikenal sebagai Jerman Timur, didirikan 7 Oktober 1949 - empat tahun setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua dan empat bulan setelah berdirinya. Republik Federal Jerman, atau Jerman Barat.

Perpecahan Jerman adalah cerminan klaim yang diajukan oleh pihak Sekutu yang memenangkap peperangan pada tahun 1945. Di satu sisi ada AS, Prancis, dan Inggris; di sisi lain, Uni Soviet. Mereka membentuk aliansi untuk mengalahkan Jerman dibawah rezim Nazi Hitler, namun kedua kubu punya ideologi berbeda yang segera menjadi jelas lagi setelah Jerman menyerah.

Pihak sekutu Barat ketika itu memotori pendirian Jerman Barat, sedangkan penguasa Uni Soviet Josef Stalin memerintahkan pendirian Jerman Timur. Uni Soviet ketika itu memang mendominasi Eropa Timur dengan ideologi sosialisme dan sistem ekonomi terencana.

Karakteristik negara-negara sosialis di Eropa Timur: tidak ada kebebasan pers, tidak ada kebebasan bergerak, tidak ada lembaga peradilan yang independen, dan tidak ada partai politik maupun pemilu bebas. Polandia, Hongaria, Rumania, dan Jerman Timur hanyalah beberapa negara yang saat itu disebut negara Tirai Besi. Mereka semuanya menyandang nama demokrasi, namun sistem pemerintahannya adalah kediktatoran.

Jerman Timur ketika itu punya peran geografis dan politik khusus di Blok Timur, karena langsung berbatasan dengan Blok Barat. Selain itu, kota Berlin yang terbagi dua terletak di wilayah Timur. Dengan demikian, Berlin Barat yang termasuk Blok Barat seperti menjadi pulau di Jerman Timur yang sosialistis.

Pembangunan Tembok Berlin tahun 1961

Di kota Berlin terjadi persaingan antara sistem kapitalisme dan sosialisme. Kota dengan lebih tiga juta penduduk itu menjadi pusat Perang Dingin. Sampai 1961 perbatasan Berlin barat dan timur menjadi jalur pengungsi yang ingin melarikan diri Blok Timur ke Blok Barat.

Namun jalur itu tertutup dengan pembangunan Tembok Berlin. Sebelumnya, lebih dari satu juta orang yang tidak setuju dengan sistem sosialis yang otoriter sudah melarikan diri ke Jerman Barat.

Setelah Tembok dibangun, masyarakat Jerman Timur makin terisolasi. Tahun 1970-an, Kanselir Jerman Barat saat itu Willy Brandt memulai era diplomasi baru dengan memulihkan hubungan diplomatik ke Jerman Timur.

Tahun 1971, Willy Brandt dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian untuk politiknya, dan 1973 kedua negara Jerman menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun usia negara Jerman Timur relatif singkat. Rezim sosialistis gagal mengembangkan ekonomi dan menjamin kesejahteraan bagi warganya, tertinggal jauh dengan perkembangan di Jerman Barat yang demokratis. Warga Jerman Timur tidak memiliki kebebasan berpendapat dan juga hanya boleh bepergian ke luar negeri dengan ijin khusus, yang sulit didapat.

Warga Jerman Timur mengekspresikan kekecewaan mereka tidak hanya melalui demonstrasi massal di jalan-jalan, melainkan juga dengan ramai-ramai mengajukan permohonan bepergian ke luar negeri.

Runtuhnya Jerman Timur

Pimpinan Jerman Timur Erich Honecker memerintah dengan otoriter dengan bantuan dinas rahasia Stasi yang sangat ditakuti. Namun mereka tidak bisa menghentikan erosi kepercayaan.

Dengan perubahan di Uni Soviet yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, Eropa Timur pun mengalami perubahan besar, terutama Polandia dan Hongaria. Desakan untuk kebebasan dan demokrasi makin lantang disuarakan.

Pada tanggal 7 Oktober 1989, rezim sosialistis di Jerman Timur menggalang perayaan besar 40 tahun pendirian Republik Demokratik Jerman Timur. Namun warga yang sudah kehilangan kepercayaan dan menolak penindasan terus menggalang aksi protes damai yang makin lama makin luas di berbagai kota.

Akhirnya, pada 9 November 1989, rezim terpaksa menyerah pada desakan puluhan ribu orang yang ingin melewati perbatasan antara Berlin Timur dan Berlin Barat.

Pasukan penjaga perbatasan dan agen-agen Stasi tidak berani melepaskan tembakan kepada ribuan warga yang berunjuk rasa, dan akhirnya membuka perbatasan setelah ada perintah dari pejabat tinggi Jerman Timur. Lalu 9 November kemudian diperingati sebagai hari runtuhnya Tembok Berlin.

Erich Honecker terpaksa mundur dan melarikan diri ke Kedutaan Chile di Moskow, namun kemudian diekstradisi ke Jerman untuk diadili. Dia akhirnya dilepaskan pengadilan atas alasan kesehatan dan pindah ke Chile.

Parlemen darurat yang dibentuk oleh kalangan pro-demokrasi akhirnya melaksanakan pemilihan umum untuk memilih parlemen baru yang demokratis. Lalu parlemen baru Jerman Timur pun emmutuskan pembuabraan negaranya dan penggabungan ke Jerman Barat, pada 3 Oktober 1990. Sekitar 17 juta warga Jerman Timur praktis menjadi warganegara Jerman Barat.

Tanggal 3 Oktober kemudian dicanangkan sebagai Hari Penyatuan Jerman (Tag der Deutschen Einheit) dan dinyatakan sebagai hari libur nasional.

(hp/vlz)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA