Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

United Airlines Batalkan 8.000 Penerbangan Boeing 737 Max

Sabtu 12 Oct 2019 10:03 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nur Aini

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Ted S. Warren
Pembatalan penerbangan United Airlines dengan Boeing 737 Max hingga akhir tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO — United Airlines Holdings Inc akan memperpanjang pembatalan penerbangan Boeing 737 Max hingga 6 Januari 2020. Langkah itu dilakukan setelah regulator yang memutuskan masih akan meninjau secara ekstensif perubahan perangkat lunak yang diusulkan untuk pesawat itu. 

Baca Juga

Perusahaan maskapai penerbangan utama di Amerika Serikat (AS) itu mengatakan pembatalan dilakukan untuk lebih dari 8.000 penerbangan pada Oktober, November, Desember, hingga beberapa hari di awal Januari 2020. United Airlines akan memantau pembaruan peraturan dan membuat penyesuaian dalam al ini. 

Selain United Airlines, beberapa maskapai penerbangan dari AS lainnya juga telah melakukan langkah serupa. Seperti Southwest Airlines Co yang memutuskan untuk membatalkan penerbangan Boeing 737 Max hingga 5 Januari 2020, kemudian ada American Airlines Group Inc yang memperpanjang pembatalan penerbangan Boeing 737 Max hingga 15 Januari 2020. 

“Kami telah bekerja sama sepenuhnya dengan peninjauan independen FAA terhadap pesawat Boeing MAX dan kami tidak akan menempatkan pelanggan, serta karyawan kami di pesawat itu hingga regulator membuat penilaian independen bahwa hal tersebut aman untuk dilakukan,” ujar pernyataan resmi United Airlines pada Jumat (11/10). 

Boeing 737 Max telah dikandangkan di seluruh dunia sejak pertengahan Maret lalu, menyusul terjadinya dua kecelakaan tragis yang melibatkan pesawat jenis itu. Pertama kali kecelakaan yang melibatkan pesawat ini terjadi pada Lion Air JT 610 di Indonesia pada Oktober 2018. 

Kemudian peristiwa kedua terjadi pada 10 Maret pada Ethiophian Airlines yang menyebabkan secara keseluruhan 346 orang tewas dalam kecelakaan Boeing 737 Max tersebut. Boeing berencana untuk merevisi perangkat lunak pesawat itu, yang mengambil  input dari kedua sensor angle-of-attack dalam sistem anti-stall yang diduga menyebabkan kecelakaan itu. 

Perusahaan tersebut juga mengatakan telah menambahkan perlindungan tambahan, sebagai antisipasi insiden serupa.  Boeing kemudian juga memperbaiki kekurangan yang ditemukan dalam rancangan perangkat lunak yang berfungsi sebagai sistem kontrol penerbangan 737 MAX. Ini melibatkan penggunaan dan penerimaan input dari dua komputer kontrol penerbangan pesawat. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA