Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Trump Disebut Pemimpin Korup Sepanjang Sejarah AS

Senin 14 Oct 2019 07:22 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Bakal calon presiden Amerika Serikat Joe Biden.

Bakal calon presiden Amerika Serikat Joe Biden.

Foto: AP
Biden adalah alasan terjadinya penyelidikan pemakzulan terhadap Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, ALTOONA -- Kandidat calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Joe Biden menyatakan dirinya sebagai alasan penyelidikan pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump. Dia menyatakan, Trump merupakan sosok pemimpin korup sepanjang sejarah AS.

"Sudah sejauh ini, jika kamu tidak bergerak, lalu apa yang kita katakan kepada seluruh dunia tentang siapa kita? Apa yang kamu katakan tentang membuka gerbang dan berkata, 'Ayo masuk, libatkan diri dalam pemilihan kita?' Apa yang kamu kerjakan?" kata Biden di sebuah forum di Iowa, dikutip dari CNN, Senin (14/10).

Mantan wakil presiden itu mengecam Trump karena meminta pemerintah asing untuk menyelidiki dia dan putranya Hunter. Dia pun menyatakan, keluarga dan rekanannya tidak akan bekerja untuk perusahaan asing jika ia terpilih sebagai presiden.

Biden menyatakan, akan memiliki lingkungan yang mengingatkan pada pemerintahan mantan presiden Barack Obama di Gedung Putih. "Saya dapat memberi tahu Anda sekarang, jika saya presiden Anda berikutnya, saya akan membangun lingkungan transparan dan bersih yang kami miliki di Gedung Putih Obama-Biden," katanya.

Pria berusia 76 tahun ini merasa menjadi sosok yang sangat kontras dengan Trump. Dia mengatakan, tidak seorang pun dalam keluarganya yang akan bertugas di Gedung Putih atau duduk di pertemuan seolah-olah mereka adalah anggota Kabinet. Komentar itu merujuk jelas kepada putri Trump, Ivanka Trump dan menantunya Jared Kushner, yang keduanya bekerja sebagai pejabat senior pemerintahan Trump.

Hunter Biden pun mengumumkan akan mengundurkan diri dari dewan perusahaan ekuitas swasta yang didukung China pada akhir bulan, Ahad (13/10). Dia berjanji tidak akan bekerja atas nama perusahaan asing jika ayahnya terpilih menjadi presiden.

Langkah ini diambil sebagai jawaban atas  kecaman terus-menerus dari Trump. Selama berbulan-bulan, Hunter Biden menghadapi serangan kritik dari Trump dan sekutunya karena masih bergabung dengan sebagai dewan Equity Investment Fund Management Company. Perusahaan tersebut adalah sebuah perusahaan China yang didirikan untuk menanam modal investasi China di luar negaranya.

Keputusan yang dibuat Hunter, menurut Biden, tidak dikonsultasikan terlebih dahulu dengannya. Namun, cara itu dinilai sebagai bentuk integritas yang seharusnya dilakukan dan anaknya melakukannya.

"Hunter melakukan kegiatan bisnis ini secara independen. Dia tidak percaya pantas membicarakan mereka dengan ayahnya, tidak sama sekali," kata pengacara Hunter, George Mesires dalam sebuah pernyataan.

Trump menghadapi penyelidikan pemakzulan oleh House of Representatives atas panggilan telepon terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki Bidens dan putranya Juli lalu. Trump diduga menahan bantuan AS ke Ukraina agar Zelensky melakukan permintaannya. Zelensky membantah melakukan sesuatu yang tidak patut.

Trump dan rekan-rekannya telah meluncurkan banyak serangan publik terkait dengan peran Hunter Biden di dewan perusahaan Ukraina dan perusahaan China. Trump  mengklaim tanpa bukti bahwa Bidens korup dan meminta secara terbuka para pemimpin Ukraina dan China menyelidiki potensi lawannya.

Pengacara Hunter pun merinci pekerjaan kliennya di Burisma, sebuah perusahaan energi di Ukraina. Dia mengatakan, ketika Biden bekerja di sana, dia tidak menghadapi tuduhan kesalahan. Hunter pun meninggalkan perusahaan pada April.

"Meskipun ada pengawasan yang luas, tidak ada lembaga penegak hukum, baik domestik maupun asing, menuduh Hunter terlibat dalam kesalahan pada setiap titik selama masa lima tahun," kata Mesires.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA