Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Partai Skotlandia Tolak Rencana Brexit

Rabu 16 Okt 2019 03:26 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Dwi Murdaningsih

Bendera Uni Eropa dan bendera Inggris yang ditinggalkan demonstran pro-Brexit di Parliament Square di London, 29 Maret 2019.

Bendera Uni Eropa dan bendera Inggris yang ditinggalkan demonstran pro-Brexit di Parliament Square di London, 29 Maret 2019.

Foto: AP Photo/Matt Dunham
Negosiator Brexit gelar pertemuan untuk susun kesepakatan keluarnya Inggris dari UE.

REPUBLIKA.CO.ID, LUKSEMBURG--Ketua Partai Nasional Skotlandia Nicola Sturgeon menegaskan tidak akan menerima rencana Brexit Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Hal ini Sturgeon katakan dalam konferensi partainya.

Partai Skotlandia Nasional menentang Inggris keluar dari Uni Eropa dalam referendum 2016 lalu. Mereka tidak bersedia untuk ditarik keluar dari blok tersebut.

Strugeon menyamakan Johnson dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia mengatakan kedua pemimpin itu menggunakan 'populisme mentah' untuk menginjak-injak hak minoritas.

"Apa persamaan pemimpin seperti Boris Johnson dan Donald Trump, keyakinan tidak ada yang boleh untuk menghalangi kepentingan mereka sendiri, tidak fakta atau bukti, bukan aturan hukum, bukan pula demokrasi," katanya Rabu (16/10).

Dalam kesempatan tersebut Sturgeon mengulang lagi rencana untuk menggelar referendum kemerdekaan tahun depan. Para negosiator Brexit sedang menggelar pertemuan untuk menyusun kesepakatan keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober mendatang.

Baca Juga

Sementara itu, negosiator Brexit untuk Uni Eropa Michel Barnier mengatakan kesepakatan dengan Inggris masih memungkinkan. Tapi pemerintah Inggris harus datang ke pertemuan dengan lembar hukum.

Barnier mengatakan tantangan utama menjelang pertemuan antara menteri luar negeri Uni Eropa yang akan datang adalah kembali ke proposal Inggris. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menawarkan proposal tentang perbatasan antara Irlandia dan Irlandia Utara.

"Sudah waktunya untuk mengubah itikad baik menjadi lembaran hukum," kata Barnier, Selasa (15/10).

Pemimpin-pemimpin Uni Eropa akan menggelar pertemuan selama dua hari mulai Kamis (17/10) mendatang. Brexit yang dijadwalkan digelar pada 31 Oktober akan menjadi agenda utama pertemuan tersebut.

"Bahkan jika kesepakatan akan diraih dengan sulit, lebih dan lebih sulit, kami pikir, masih memungkinkan diraih pekan ini," kata Barnier.

sumber : ap/reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA