Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Putin Undang Erdogan ke Rusia Bahas Serangan ke Suriah

Kamis 17 Oct 2019 15:37 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin.

Foto: Kremlin Pool Photo via AP
Putin ingin Turki menghindari konfrontasi dengan militer Suriah yang didukung Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengundang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke negaranya. Undangan itu disampaikan saat Turki tengah menuai kecaman dan protes karena menggelar operasi militer di Suriah. 

Baca Juga

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, pada Selasa (15/10) lalu, Putin telah melakukan percakapan via telepon dengan Erdogan. Topik utama yang dibahas adalah tentang operasi militer Turki di Suriah. 

Putin menekankan tentang pentingnya Turki menghindari konfrontasi dengan militer Suriah yang selama ini dukung Rusia. Pada kesempatan itu, Putin pun mengundang Erdogan untuk berkunjung ke Rusia. 

Peskov mengungkapkan, Putin dan Erdogan akan melakukan pertemuan di resor Laut Hitam di Sochi. "Saya dapat mengonfirmasi bahwa pertemuan tingkat tinggi akan berlangsung di Sochi pada 22 Oktober," ucapnya pada Rabu (16/10), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS. 

Turki mulai melancarkan operasi militer di Suriah timur laut pada Rabu pekan lalu. Mereka ingin menumpas pasukan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dan Partai Persatuan Demokratik Suriah (PYD). Ankara memandang YPG sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah melancarkan pemberontakan di Turki tenggara selama lebih dari tiga dekade. Turki telah melabeli YPG dan PKK sebagai kelompok teroris.

Beberapa negara Arab, seperti Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) telah mengecam operasi militer tersebut. Menurut mereka, selain melanggar kedaulatan Suriah, aksi militer Turki sangat mengancam stabilitas kawasan.

Amerika Serikat (AS), bersama negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, turut mengkritik operasi militer Turki di Suriah. Mereka mendesak Turki untuk segera menghentikan aksinya mengingat krisis kemanusiaan yang berpotensi timbul dari operasi militer tersebut. 

AS bahkan telah menjatuhkan sanksi ekonomi pada Turki. Washington mendesak Ankara segera mendeklarasikan gencatan senjata. Namun, Erdogan telah menyatakan tak akan melakukan hal itu. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA