Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Trump Ingin Biarkan Turki dan Suriah Berperang Habis-habisan

Kamis 17 Oct 2019 11:24 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden Donald Trump (Ketiga Kanan)

Presiden Donald Trump (Ketiga Kanan)

Foto: VOA
Turki mengerahkan operasi militer di Suriah yang menyasar pasukan Kurdi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ia tidak keberatan jika Rusia membantu Suriah dalam konflik dengan Turki. Ia juga membela diri atas keputusannya untuk menarik pasukan AS dari Suriah yang membuat Turki dapat menyerang Kurdi, sekutu AS di kawasan.

Baca Juga

Trump mengatakan keputusannya itu sebagai 'strategi yang brilian'. Penarikan pasukan AS itu menghancurkan utara Suriah yang sebelumnya relatif tenang. Trump juga dikritik telah mengkhianati pasukan Kurdi yang membantu AS mengalahkan ISIS di Suriah.

Keluarnya Washington dari zona pertempuran membuat Turki dan Rusia menjadi dua kekuatan asing yang bertempur di daerah itu. Mereka memperebutkan daerah yang sebelumnya dilindungi AS.

Organisasi kemanusiaan Syrian Observatory for Human Rights melaporkan pasukan pemerintah Suriah yang dibantu pasukan Rusia memasuki kota Kobani, kota perbatasan strategis yang penting dan berpotensi menjadi titik panas konflik yang lebih luas lagi.

Usai berbicara bertemu dengan Presiden Italia Sergio Mattarella di Oval Office, Trump mengatakan pasukan Kurdi 'bukan malaikat'. Menurutnya mungkin perlu bagi Turki dan Suriah yang didukung Rusia untuk 'bertempur habis-habisan'.

"Tentara kami tidak dalam bahaya, sebagaimana yang seharusnya, dua negara yang berperang atas tanah yang tidak ada hubungannya dengan kami," kata Trump yang didampingi Mattarella, Kamis (17/10).

Ia juga membela langkahnya untuk mengeluarkan pasukan AS dari 'perang yang tak kunjung berakhir'. Walaupun, anggota Partai Republik di parlemen yang kerap membelanya mengecam langkah tersebut.

"Saya melihat situasi di perbatasan Turki dengan Suriah strategi yang brilian bagi Amerika Serikat," katanya.

Namun, beberapa pejabat AS mengatakan mungkin mereka akan menempatkan pasukan lagi ke wilayah tersebut. Kemungkinan ada pasukan yang akan dikerahkan ke Irak.

"Suriah mungkin mendapat bantuan dari Rusia, dan itu baik-baik saja, itu tanah yang luas, jadi Anda memiliki Suriah dan Anda memiliki Turki, mereka akan mendebatkannya, mungkin mereka akan memperebutkannya, tapi pasukan kami tidak akan terbunuh karena itu," kata Trump.  

Usai menelepon Presiden Turki Tayyep Erdogan pada 6 Oktober lalu, Trump mengubah kebijakan AS secara drastis dalam melindungi pasukan Kurdi di Suriah. Ia menarik 50 unit pasukan operasi khusus dan lalu 1.000 pasukan dari utara Suriah.

"Ini kesalahan yang lebih buruk daripada apa yang (Barack) Obama lakukan," kata Senator AS Lindsay Graham.

Ia menyinggung tentang penarikan pasukan yang dilakukan Obama dari Irak pada 2011. Graham biasanya pembela Trump yang paling tangguh.

Berusaha melawan gejolak politik domestik, Gedung Putih merilis percakapan antara Trump dan Erdogan pada 9 Oktober lalu. Dalam catatan percakapan itu Trump mengatakan 'jangan berlaga menjadi orang tangguh' dan 'jangan menjadi orang bodoh'. Ia mendesak Erdogan menghentikan serangan ke Suriah. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA