Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Meksiko Deportasi Ratusan Warga India

Jumat 18 Oct 2019 19:06 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Bendera India (Ilustrasi).

Bendera India (Ilustrasi).

Foto: IST
Ratusan warga India dinilai ilegal saat masuk ke Meksiko.

REPUBLIKA.CO.ID, MEXICO CITY -- Meksiko dilaporkan telah mendeportasi 311 warga negara India ke New Delhi, Rabu (16/10) malam waktu setempat. National Migration Institute (INM) menyebut deportasi tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga

Langkah deportasi itu mengikuti kesepakatan yang dicapai Meksiko dengan Amerika Serikat (AS) pada Juni lalu. Kedua negara berjanji secara signifikan membatasi migrasi AS sebagai imbalan untuk mencegah tarif yang dikenakan AS pada ekspor Meksiko.

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah INM dalam bentuk atau jumlah orang bagi transportasi udara transatlantik seperti yang dilakukan pada hari ini," kata INM dalam sebuah pernyataan dilansir Aljazirah, Jumat (18/10).

Menurut INM, sebanyak 310 pria dan seorang perempuan berada di Meksiko, tetapi ilegal dengan penerbangan carter dan ditemani oleh agen imigrasi federal dan Garda Nasional Meksiko. Warga negara India itu akan tiba di New Delhi pada Jumat, waktu setempat. Pejabat India mengatakan, sebagian besar warga yang dideportasi berasal dari negara bagian Punjan utara India. Pejabat India juga mengatakan, pihak berwenang India nantinya akan melakukan pemeriksaan jika ada di antara mereka yang memilki sejarah kriminal.

INM mengatakan orang-orang yang dideportasi telah tersebar di delapan negara bagian di sekitar Meksiko, termasuk di bagian selatan tempat banyak migran India memasuki negara itu atau sekedar berharap untuk transit ke perbatasan AS.

Koordinator penelitian di Konsultan IBI Caitlyn Yates mengatakan, peningkatan migran di Meksiko selatan telah terjadi karena para pejabat telah berhenti mengeluarkan izin bagi mereka untuk melintasi negara itu. "Jenis deportasi di Meksiko ini adalah yang pertama dari jenisnya tetapi kemungkinan akan berlanjut," kata Yates.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA