Sabtu 19 Oct 2019 07:10 WIB

Bom di Masjid Afghanistan, Pemerintah-Taliban Saling Tuding

Pemerintah Afghanistan tuding Taliban bertanggung jawab atas serangan bom di masjid.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Reiny Dwinanda
 Korban ledakan bom bunuh diri di masjid dievakuasi ke rumah sakit di distrik Haskamena, Jalalabad di timur Kabul, Afghanistan, Jumat (18/10).
Foto: AP
Korban ledakan bom bunuh diri di masjid dievakuasi ke rumah sakit di distrik Haskamena, Jalalabad di timur Kabul, Afghanistan, Jumat (18/10).

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL — Ledakan bom bunuh diri di sebuah masjid di Provinsi Nangarhar, Afghanistan merenggut 62 nyawa warga sipil, Jumat (18/10) waktu setempat. Bom yang meledak saat warga sedang shalat Jumat itu juga membuat sedikitnya 100 orang mengalami luka-luka.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas aksi peledakan bom tersebut. Lewat Juru Bicara Presiden Ashraf Ghani, Sediq Sediqqi, mengatakan bahwa pemerintah mengutuk keras aksi ledakan bom tersebut.

Baca Juga

Meski belum ada yang mengaku bertanggung jawab, tetapi Sediq menuding keterlibatan kelompok Taliban dalam aksi mematikan tersebut. “Pemerintah Afganistan mengutuk keras serangan itu. Taliban dan mitra mereka melakukan kejahatan keji yang terus menerus menargetkan warga sipil saat sedang beribadah,” begitu kata Seddiq, seperti dikutip dari Aljazirah, Sabtu (19/10).

Akan tetapi, tudingan Sediq tersebut mendapat bantahan dari kelompok Taliban. Juru Bicara Taliban, Suhail Shaheen, menegaskan bahwa kelompoknya tak bertanggung jawab atas insiden di Nangarhar. Alih-alih mengaku, Suhail menuding ledakan itu berasal dari serangan pemerintah sendiri.

"Semua saksi mengatakan, itu adalah serangan mortir yang dilakukan pasukan administrasi di Kabul," kata Suhail.

Saat kedua belah pihak saling tuding, jumlah korban dari ledakan itu dipastikan akan bertambah. Masjid yang menjadi lokasi ledakan menampung sekitar 350 jamaah saat insiden berdarah itu terjadi.

"Jumlah korban kemungkinan akan bertambah. Itu karena saat ini, proses evakuasi dan penyelamatan sedang dilakukan direruntuhan masjid yang hancur," kata anggota dewan di Provinsi Nangarhar, Sohrab Qaderi.

"Ini adalah pemandangan yang memilukan untuk dilihat,” kata tokoh adat di Nangarhar, Malik Gul Shinwari.

Ia memastikan, masjid yang menjadi objek ledakan, hancur dan mulai rubuh sampai ke tanah. Ledakan di Provinsi Nangarhar kali ini menjadi salah satu serangan bom bunuh diri terparah yang terjadi di Afghanistan dalam setahun terakhir.

Serangan bom bunuh diri itu pun terjadi sehari setelah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengumumkan tingkat kekerasan yang meningkat di Afghanistan. Dalam catatan PBB, hanya dalam waktu tiga bulan antara 1 Juli sampai 30 September, sudah tercatat 1.174 kematian akibat kekerasan di Afganistan. Sekitar 3.139 orang lainnya, juga mengalami luka-luka selama periode tersebut.

Menurut PBB, kekerasan yang meningkat dan jumlah kematian dan luka-luka yang masif di Afghanistan terkait dengan aksi-aksi paramiliter yang digencarkan kelompok-kelompok bersenjata antipemerintahan. PBB menuding Taliban dan jaringan terorisme global, ISIS, termasuk dalam kelompok tersebut. PBB mengkhawatirkan, kekerasan-kekerasan lanjutan akan membuat Afghanistan kembali ke zona peperangan sipil.

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement