Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Cina: Naga Tidur yang Siap Bangkit?

Sabtu 19 Oct 2019 17:10 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

Reuters/Kim Kyung-Hoon

Reuters/Kim Kyung-Hoon

Sistem pemerintahan Cina lebih efektif daripada sistem demokrasi liberal Barat.

Barat selalu menganggap mereka lebih maju daripada Cina. Tetapi sebenarnya Cina mempunyai peradaban yang hebat, kata Martin Jacques.

Jadi negara-negara Barat sebaiknya tampil lebih rendah hati. Wawancara DW dengan ahli politik Universitas Cambridge Martin Jacques.

Martin Jacques, jurnalis dan ilmuwan politik di Universitas Cambridge, pernah berpendapat bahwa Cina akan menjadi adidaya ekonomi yang lebih besar daripada AS pada tahun 2027. Alasan utamanya: sistem pemerintahan Cina lebih efektif daripada sistem demokrasi liberal Barat. Tapi sekarang, pertumbuhan ekonomi Cina melemah dan pada 2018 mencapai titik terendahnya sejak tahun 1990.

Karena itu, ada pengamat seperti Michael Auslin yang berpendapat bahwa "Era Abad Asia" sudah berakhir. "Abad Asia" dulu pernah pernah digembar-gemborkan para penulis seperti Kishore Mahbubani dan Martin Jacques. Lalu bagaimana tanggapan penulis buku "When China Rules the World" itu? Inilah wawancara DW dengan Martin Jacques

DW: Bagaimana Anda menanggapi kritik seperti dari Michael Auslin mengenai sudah berakhirnya Abad Asia?

Martin Jacques:

Selalu ada artikel-artikel seperti itu yang muncul di jurnal politik, yang melihat akhir dari kebanngkitan Cina dan Asia. Tetapi artikel-artikel ini tidak memahami sifat jangka panjang dan bertahap dari proses yang kita saksikan di Cina daratan.

Tapi ekonomi Cina hanya tumbuh 6,6% tahun 2018, tingkat paling lambat sejak 1990. Mengingat bahwa ekonomi Cina berkontribusi 30% terhadap pertumbuhan ekonomi global, bagaimana dampaknya pada perekonomian global?

Perlambatan jelas akan berdampak negatif pada ekonomi global. Nasib ekonomi Cina sangat erat hubungannya dengan ekonomi global. Tetapi pertumbuhan ekonomi Cina merupakan yang kedua tertinggi di dunia, setelah India, dan jangan lupa, ekonomi Cina tiga kali lebih besar dari India.

Cina sedang berusaha mengubah model pertumbuhannya, dari model yang didukung oleh perdagangan, investasi, dan infrastruktur menjadi model yang dibangun berdasarkan konsumsi domestik. Penjualan ritel tahunan barang-barang konsumsi tumbuh 9,0% pada 2018. Bagaimana itu akan mengubah model sosialisme Cina?

Ada kemajuan besar yang dibuat sebagai perubahan pergeseran ekonomi Cina dari manufaktur dan tenaga kerja murah ke sektor yang lebih bernilai tambah, dan perubahannya masih lebih cepat dari yang saya kira. Pasar Cina tanpa diragukan lagi akan menyusul AS. Secara umum, saya masih sangat optimis tentang ekonomi Cina. Ada persepsi kemakmuran yang sangat kuat.

Apakah ada hubungan antara pertumbuhan yang melambat dan kebijakan luar negeri Cina yang lebih agresif – misalnya tentang Hong Kong dan Taiwan?

Saya tidak berpikir Partai Komunis Cina dalam keadaan yang rentan, selain konfli-konflik skala kecil. Jelas, perang dagang dengan AS membuat situasi jadi sulit. Namun Beijing sangat percaya diri. Krisis itu ada di Barat, bukan di Cina. Kita harus memandang ke Cina dengan kerendahan hati. Karena kitalah yang mengacaukan situasi global, bukan mereka.

Bagaimana pengaruh perlambatan ekonomi Cina terhadap Jerman?

Jerman sudah sangat terpengaruh dengan perlambatan Cina. Jerman punya sejarah panjang keberhasilan di Cina dari 1980-an, tetapi keberhasilan itu sekarang terancam, khususnya bagi para pembuat mobil (asal Jerman).

Bagaimana menurut Anda sengketa soal Huawei dalam konteks ini?

Argumen teknologi, menyangkut Huawei dan yang lainnya, adalah bagian dari masalah perdagangan. Negara dan perusahaan selalu saing bersaing dan juga saling mencuri. Tapi kita harus memutuskan untuk merangkul dan membuka kemungkinan masuknya teknologi maju dari Cinam dan bukannya mengikuti pendekatan Trump yang agresif.

Kalau Trump tidak emngubah kebijakannya, pada akhirnya AS akan menjadi pecundang. Jadi AS perlu mempertimbangkan fakta bahwa dia kemungkinan besar bukan lagi negara yang mendominasi dan harus berbagi kepemimpinan secara global. Tampaknya AS memang tidak biasa dengan peran ini, tidak ada dalam DNA mereka, jadi mereka tidak mau. Tapi itu picik dan bodoh.

Kita di Barat selalu menganggap kita berada di depan, sejauh menyangkut Cina. Tetapi sebenarnya Cina mempunyai peradaban yang hebat. Jadi bagi Barat, lebih tepat kalah menunjukkan kerendahan hati. Perubahan besar di Cina adalah salah satu kisah manusia yang paling sukses, dan semakin cepat kita menerima ini, semakin baik.

Wawancara dengan Martin Jacques dilakukan oleh editor DW Jo Harper

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA