Ahad 20 Oct 2019 13:44 WIB

Mahasiswa India Pakai Kardus di Kepala Agar tak Menyontek

Sekolah meminta maaf dan menghentikan praktik tersebut.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah
Mahasiswa menggunakan kardus di kepala selama ujian kimia di Bhagat Pre-University College di Haveri, negara bagian Karnataka, India agar tidak menyontek.
Foto: ANI
Mahasiswa menggunakan kardus di kepala selama ujian kimia di Bhagat Pre-University College di Haveri, negara bagian Karnataka, India agar tidak menyontek.

REPUBLIKA.CO.ID, KARNATAKA -- Seorang pejabat sekolah di India meminta maaf setelah serangkaian gambar yang menunjukkan siswa mengenakan kotak kardus di kepala menjadi viral. Gambar tersebut diambil selama ujian kimia di Bhagat Pre-University College di Haveri, negara bagian Karnataka.

Dalam foto yang tersebar di internet itu memperlihatkan para siswa mengenakan kardus yang dilubangi di bagian depan. Langkah ini dilakukan untuk mencegah siswa menyalin jawaban orang lain.

Baca Juga

Petugas administrator perguruan tinggi junior MB Satish telah berbicara kepada publik perihal masalah tersebut. Dia pun meminta meminta maaf kepada pejabat distrik atas insiden tersebut.

Satish mengatakan kepada BBC Hindi, menyesal telah mencoba menggunakan teknik anti-kecurangan yang tidak biasa. Dia mengatakan sekolah hanya menerapkan dasar eksperimental setelah mendengar penggunaannya di tempat lain.

"Tidak ada paksaan dalam bentuk apa pun. Anda dapat melihat di foto itu beberapa siswa tidak mengenakannya," kata ujar Satish.

Dalam menerapkan metode menggunakan kardus pun, Satish mengatakan, itu telah dilakukan dengan persetujuan siswa. Bahkan siswa sendiri yang membawa kardus-kardus tersebut untuk digunakan dalam ujian.

"Beberapa yang mengenakannya melepasnya setelah 15 menit, beberapa setelah 20 menit dan kami sendiri meminta mereka melepasnya setelah satu jam," ujar Satish.

Pejabat daerah dilaporkan bergegas ke sekolah untuk memeriksa setelah mendapatkan laporan dari foto yang sudah beredar luas. Wakil Direktur Dewan Pendidikan pra-Universitas setempat SC Peerjade mengatakan, praktik ini tidak manusiawi.

"Ketika saya mendapat pesan tentang ini, saya segera pergi ke perguruan tinggi dan memerintahkan manajemen menghentikan praktik tersebut," katanya seperti dikutip Times of India.

Peerjade pun menekankan kepada manajemen kampus tidak menerapkannya lagi. Dia pun mempertimbangkan tindakan disipliner terhadap pengajar karena menerapkan ide ini. Pejabat sekolah mengatakan mereka telah menghentikan praktik ini dan bekerja sama dengan arahan dewan sekolah.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement