Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Pemimpin Hong Kong Minta Maaf pada Pengurus Masjid Kowloon

Senin 21 Oct 2019 14:01 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Masjid Kowloon Hong Kong

Masjid Kowloon Hong Kong

Foto: Wikipedia
Masjid Kowloon terkena air berwarna biru yang digunakan untuk membubarkan demonstran.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengunjungi Masjid Kowloon pada Senin (21/10). Dia ke sana untuk meminta maaf karena masjid tersebut terkena semburan meriam air saat aparat berusaha membubarkan pengunjuk rasa. 

Baca Juga

Dilaporkan laman TRT World, dalam kunjungannya Lam didamping kepala kepolisian Hong Kong Stephen Lo. Mereka bertemu dengan Imam Muhammad Arshad selaku ketua pengurus Masjid Kowloon. 

Menurut Arshad, kedatangan Lam dan Lo memang untuk menyampaikan permintaan maaf karena Masjid Kowloon tak sengaja terkena semburan meriam air berwarna biru pada Ahad lalu. Dia mengatakan para pengurus dan jamaah masjid yang sebelumnya sempat gusar atas kejadian tersebut telah memaafkannya. 

Arshad pun menyampaikan harapan komunitas Islam untuk terus hidup di Hong Kong dengan damai. Pertemuan di masjid berlangsung sekitar 20 menit. Setelah kunjungan itu, Lam bertolak ke Jepang untuk menghadiri acara penobatan Kaisar Naruhito. 

Aksi demonstrasi di Hong Kong telah berlangsung sejak Juni lalu. Hingga kini, belum ada tanda-tanda unjuk rasa akan mereda. Ribuan orang masih turun ke jalan dan berpartisipasi dalam demo anti-pemerintah tersebut. 

Rancangan undang-undang ekstradisi (RUU) adalah pemicu utama dari pecahnya demonstrasi di Hong Kong. Masyarakat menganggap RUU tersebut merupakan ancaman terhadap independensi proses peradilan di sana. 

Sebab RUU itu memungkinkan otoritas Hong Kong mengekstradisi pelaku kejahatan atau kriminal ke China daratan. Para demonstran menilai proses peradilan di China tak independen dan perlindungan hak asasi manusianya tak dijamin. Oleh sebab itu mereka menyerukan RUU ekstradisi dicabut sepenuhnya. 

Pada September lalu, Carrie Lam akhirnya memutuskan menarik RUU tersebut. Dia mengatakan prioritas pemerintahannya saat ini adalah mengakhiri kekerasan, menjaga supremasi hukum, dan memulihkan ketertiban serta keamanan di masyarakat. 

Namun, hal itu tak cukup untuk meredam dan menghentikan gelombang demonstrasi. Massa justru menuntut Lam mundur dari jabatannya dan mendesak agar kekerasan yang dilakukan aparat terhadap demonstran diusut tuntas.

Mereka pun menyerukan agar otoritas Hong Kong membebaskan para demonstran yang ditangkap. Menurut laporan, sejak aksi demonstrasi dimulai, aparat keamanan telah menangkap setidaknya 2.600 orang. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA