Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Cina Peringatkan AS tak Ikut Campur Urusan Dalam Negeri

Senin 21 Oct 2019 18:43 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Bendera Cina.

Bendera Cina.

Foto: ABC News
Cina menyalahkan negara-negara asing atas kerusuhan di Hong Kong.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Menteri Pertahanan Cina Wei Fenghe secara tersirat memperingatkan agar AS tak ikut campur masalah dalam negeri. Dia berpendapat Hasutan revolusi yang didorong dari luar itu dapat menyebabkan peperangan dan pergolakan di berbagai wilayah di dunia.

"Gangguan dalam urusan daerah lain, dan urusan internal orang lain, menghasut revolusi warna, dan upaya untuk menggulingkan pemerintah yang sah dari negara lain adalah penyebab sebenarnya dari perang dan pergolakan di beberapa daerah," kata Wei dalam Forum Xiangshan di Beijing, dikutip dari Straits Times, Senin (21/10).

Cina menyalahkan negara-negara asing, termasuk Amerika Serikat (AS), karena menghasut kerusuhan yang telah mengguncang Hong Kong selama lima bulan. Wei menyebut, protes tersebut sebagai revolusi warna, merujuk pada pemberontakan pro-demokrasi yang pecah di negara-negara bekas Uni Soviet pada masa perang.

Wei juga menyinggung upaya negara-negara mengasingkan diri atau mengejar strategi keamanan yang berusaha untuk mengecualikan negara lain. "Di era globalisasi ekonomi, tidak ada negara yang mampu mundur ke pengasingan diri sendiri. Membengkokkan aturan internasional sesuai keinginan hanya dapat merusak tatanan internasional," kata Wei.

Pemerintahan Presiden Donald Trump membuat AS telah mengejar kebijakan proteksionis "America First". Kondisi ini memberlakukan tarif pada sekutu seperti Uni Eropa, dan juga menjerumuskannya ke dalam perang dagang dengan Cina.

Komentar Wei tentang masalah ini datang ketika Washington dan Beijing bekerja menuju perjanjian perdagangan parsial, setelah perunding awal bulan ini di Washington. Beijing telah mengatakan para pejabat sedang mengerjakan teks perjanjian yang diperkirakan akan ditandatangani oleh Trump dan Presiden China  Xi Jinping pada pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik bulan depan di Cile.

"Kami siap mengatasi keprihatinan satu sama lain melalui dialog dan konsultasi atas dasar kesetaraan dan saling menghormati. Ini akan mencegah konflik perdagangan meningkat dan menyebar, dan demi kepentingan kedua negara, dan dunia," kata Wei.

Cina pun berkomitmen pada jalur pembangunan damai dan tidak akan mencari dominasi.  Hanya saja, dia memberi pengecualian terhadap kepentingan Cina terhadap Taiwan yang menyatakan itu menjadi kepentingan nasional terbesar saat ini dan tidak ada yang bisa menghentikan penyatuan kembali negara tersebut.

"Menyelesaikan masalah Taiwan untuk mewujudkan penyatuan kembali dengan China adalah jalan yang tak tertahankan di masa itu, kepentingan nasional terbesar Cina, jalan lurus yang harus diikuti dan kerinduan semua orang Cina," kata Wei dengan menekankan, China adalah satu-satunya negara dengan kekuatan besar yang belum dipersatukan kembali.

"Tapi kami pasti tidak akan berpangku tangan dengan membiarkan pasukan kemerdekaan Taiwan (untuk memecah belah negara), atau tidak melakukan apa pun untuk menghentikan kekuatan eksternal dari campur tangan," kata Wei dikutip dari South China Morning Post.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA