Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Pertemuan dengan AS Tentukan Serangan Turki ke Suriah

Selasa 22 Okt 2019 18:42 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Asap mengepul dikejauhan akibat roket yang ditembakkan Turki ke arah Ras al-Ayn, Suriah, Selasa, (15/10)

Asap mengepul dikejauhan akibat roket yang ditembakkan Turki ke arah Ras al-Ayn, Suriah, Selasa, (15/10)

Foto: Lefteris Pitarakis/AP
Turki akan tetap melanjutkan serangan militer ketika AS tidak menepati janji.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Pasukan Kurdi terus menarik diri di timur laut Suriah. Meski begitu, Presiden Tayyip Erdogan mengatakan, Turki akan tetap melanjutkan serangan militer ketika Amerika Serikat (AS) tidak menepati janji.

Genjatan senjata dilakukan antarpasukan militer Turki dengan pasukan Kurdi di Suriah dilakukan atas perantara AS. Masa tenang ini akan berakhir pada Selasa (22/10) pada pukul 22.00 waktu setempat.

Turki mengatakan pasukan milisi People's Protection Units (YPG) Kurdi harus meninggalkan zona aman yang akan dibangun sepanjang perbatasannya dengan Suriah timur laut. Ankara memandang YPG sebagai teroris yang memiliki hubungan dengan pemberontak Kurdi yang beroperasi di Turki tenggara.

"Semua harus keluar, prosesnya tidak akan berakhir sebelum mereka keluar," kata Erdogan.

Meski Pasukan YPG terus menarik diri, Endorgan menyatakan tetap akan melanjutkan serangan setelah lima hari penundaan penyerangan. Padahal sebelumnya Trump yakin kesepakatan sementara ini akan bisa dilakukan secara berkelanjutan.

"Jika janji-janji yang diberikan kepada kita oleh Amerika tidak ditepati, kami akan melanjutkan operasi kami dari tempat sebelumnya, kali ini dengan tekad yang jauh lebih besar," kata Erdogan.

Turki memulai operasi lintas-perbatasannya hampir dua pekan lalu setelah keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menarik pasukan AS dari Suriah utara. Penarikan pasukan itu telah dikritik oleh anggota parlemen AS, termasuk beberapa rekan Republikan sebagai pengkhianatan sekutu Kurdi yang telah membantu AS melawan ISIS di Suriah.

Turki ingin membangun zona aman sepanjang 440 Km di perbatasan Suriah timur laut. Namun, serangan yang dilakukan sejauh ini telah difokuskan pada dua kota perbatasan di pusat jalur itu, Ras al Ain dan Tel Abyad, berjarak sekitar 120 Km.

Sumber keamanan Turki mengatakan, YPG pada awalnya menarik diri dari garis perbatasan 120 km. Dia mengatakan Erdogan dan Putin akan membahas penarikan yang lebih luas dari sisa perbatasan dalam pembicaraan pada Selasa di resor Sochi di Laut Hitam Rusia.

"Penarikan itu berlanjut. Menurut informasi yang saya terima dari menteri pertahanan, kami berbicara tentang 700-800 yang sudah ditarik dan sisanya, sekitar 1.200-1.300, terus menarik diri. Dikatakan mereka akan mundur," kata Erdogan.

Pasukan Suriah dan Rusia telah memasuki dua kota perbatasan, Manbij dan Kobani, yang terletak di dalam zona aman di sebelah barat operasi militer saat ini. Erdogan mengatakan dia bisa menerima kehadiran pasukan Suriah di daerah-daerah itu, selama YPG didorong keluar.

"Harapan saya, Insya Allah kita akan mencapai kesepakatan yang kita inginkan," kata Erdogan sebelum berangkat ke Sochi.

Rusia adalah sekutu dekat Presiden Suriah Bashar al-Assad. Turki telah mendukung pemberontak yang berusaha menggulingkan Assad selama perang saudara Suriah yang berlangsung lebih dari delapan tahun, tetapi, telah membatalkan seruannya agar Assad berhenti.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah monitor perang yang berbasis di Inggris, sekitar 300 ribu orang telah terlantar akibat serangan militer Turki dan 120 warga sipil telah tewas. Sedangkan pada Ahad, sebanyak 259 pejuang pasukan pimpinan Kurdi telah terbunuh dan 196 pemberontak Suriah yang didukung Turki. Turki mengatakan, 765 orang meninggal dunia dalam serangan yang semuanya adalah teroris dan bukan warga sipil.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA